Apa yang Terjadi Jika BAB di Tempat Terbuka dan Bisa Dilihat oleh Orang Lain?

Ilustrasi PKH 220313Dalam kurun waktu 4 tahun (2008 – 2012),  cakupan jamban keluarga di Kabupaten Kuningan telah terjadi peningkatan yang cukup signifikan. Dari 75,82 persen pengguna jamban sehat pada tahun 2008, meningkat menjadi sekitar 92,12 persen pada 2012. Penerapan Marketing Sanitasi (Pemasaran Jamban Keluarga) yang merupakan terobosan baru tahun 2012 diharapkan akan terus meningkatkan akses jamban keluarga di Kabupaten Kuningan.

Program Marketing  Sanitasi yang sudah dimulai  pertengahan tahun 2012 ini diberi nama  SanUKa  (Sanitasi  Urang Kuningan). Program ini  dilakukan secara serempak di 37 Puskesmas dengan pembagian peran antara Sanitarian Puskesmas yang  berfungsi sebagai tenaga pemasaran  di wilayah kerjanya, dan Sanitarian Kabupaten di dinas kesehatan yang mengumpulkan seluruh data  terkait pembuatan jamban. Kemudian pelibatan pengusaha bahan bangunan sebagai penyedia bahan bangunan di wilayah desa terdekat. Wah hade! Cekap teu upaya iyeu?

Pelaksanaan program SanUKa tidak semuanya berahir dengan sukses, program ini juga masih menemui beberapa kendala. Masih ada pesimisme atau kekurangyakinan dari petugas kesehatan, tokoh masyarakat dan beberapa aparat desa. Di beberapa desa masih ada keluarga yang belum menerapkan jamban keluarga, bahkan terdapat satu kelurahan di pinggiran Kota Kuningan penggunanya masih di bawah 30 persen. Hal tersebut disebabkan masih rendahnya  kesadaran masyarakat untuk berperilaku hidup bersih dan sehat. Selain kendala keterbatasan lahan dan kondisi ekonomi mereka, sebagian masyarakat masih BAB sembarangan di kolam ikan atau sungai yang berdekatan dengan  pemukiman penduduk. Euleuh, euleuh.

Hal ini merupakan tantangan terbesar bagi pelaku-pelaku sanitarian khususnya dan masyarakat pada umumnya. Terwujudkanya perilaku BAB di jamban sehat di rumah tidak semudah membalikkan telapak tangan. Perlu proses yang panjang karena sangat berkaitan dengan pola budaya dan adat yang ada di masyarakat. Proses tersebut ternyata akan menjadi lebih mudah jika sejak awal program melibatkan masyarakat untuk  melihat dan menganalisa kondisi yang ada. Dengan cara ini, diharapkan masyarakat mampu menyimpulkan sendiri apa yang sebaiknya dilakukan atau tidak dilakukan.

Artinya, fokus pemicuan tidak hanya pada menumbuhkan kesadaran setiap warga membangun jamban sehat sendiri, namun perlu dibarengi dengan menyadarkan masyarakat akan rasa malu jika BAB sembarangan, atau jijik karena meminum air yang berasal dari sungai yang tercemar tinja. Pada intinya berusaha menunjukkan sisi negatif dari BAB sembarangan yang selama ini dilakukan oleh sebagian masyarakat namun mereka tidak menyadarinya.

Membangkitkan rasa malu terkait perilaku BABS misalnya dapat dimulai dengan berdiskusi dengan kaum perempuan. Perempuan adalah pihak yang paling berkepentingan karena ada unsur privasi. Perempuan termasuk kelompok yang paling cocok untuk dipicu agar merasa malu atau jijik untuk buang air besar di sungai atau tempat terbuka yang lain. Diskusi bersama kelompok perempuan bisa dilakukan dengan menggali pendapatnya, apa yang terjadi jika perempuan harus BAB di tempat terbuka yang tidak terlindung dan bisa dilihat oleh orang lain.

Selain rasa malu, menghilangkan kebiasaan BABS dapat dimulai dengan menumbuhkan rasa jijik terhadap tinja yang berserakan di sekitar lingkungan mereka akibat perilaku BABS. Untuk menumbuhkan rasa jijik tersebut, masyarakat dapat diajak  untuk “menghitung” kembali jumlah tinja di kampungnya dengan memetakan tempat-tempat yang biasa digunakan BABS sambil menelusuri tempat perginya sejumlah tinja tersebut.

Dengan “memetakan” tempat-tempat tinja dan membahas kotoran tersebut dapat dihinggapi lalat dan kemudian lalat hinggap ke makanan yang dikonsumsi di rumah, informasi ini diharapkan bisa memicu rasa jijik jika ada tinja di sembarang tempat. Diskusi bisa berlanjut dengan membahas pengalaman mereka mengetahui tetangga yang pernah kena diare dan harus berobat, atau bahkan ada yang meninggal karena diare. Tah, eta teh gara-gara BAB sembarangan!

Segala permasalahan di atas menjadi pekerjaan rumah bagi semua pelaku program sanitasi. Diharapkan banyak terobosan untuk meningkatkan akses jamban keluarga, baik melalui program pemasaran sanitasi atau memicu rasa malu untuk melakukan BABS. Di satu sisi, perilaku BABS harus terus dikikis melalui rasa malu dan jijik, dan di sisi lain disediakan tempat yang tepat untuk BAB, yaitu di jamban sehat. Perlahan tapi pasti, diharapkan masyarakat terbebas dari  perilaku Buang Air Besar Sembarangan. Tah kitu.

Sumber: Tribun Jabar 22 Maret 2013
Unduh/Download: Pojok Kang Hebring - Tribun Jabar 22 Maret 2013

Comments