Kampung Kuta, Kampung Adat, Kampungnya STBM Kabupaten Ciamis

Ilustrasi PKH 220213Dalam proses pengenalan dan pengembangan model pemberdayaan masyarakat dalam isu sanitasi, masih banyak faktor yang menyebabkan kegagalan program sanitasi. Diantaranya adalah pilihan teknologi yang terbatas dan relatif mahal, serta faktor promosi yang kurang berhasil menimbulkan motivasi atau kebutuhan sanitasi.

Tetapi pendekatan yang dikembangkan dalam penerapan program di Kabupaten Ciamis memberikan pembelajaran tidak hanya secara teoritis tetapi juga dalam hal  pelaksanaan di lapangan. Kesulitan yang dihadapi masyarakat dalam melaksanakan gerakan Stop Buang Air Besar Sembarangan (Stop BABS), mampu diselesaikan masyarakat secara kolektif. Masyarakat sudah bisa menepis anggapan bahwa tanpa subsidi dari pemerintah pembangunan jamban tidak akan berhasil.

Sebagaimana diketahui, di Kabupaten Ciamis terdapat sebuah komunitas adat bernama Kampung Kuta. Berbeda dengan kampung atau dusun lain di Desa Karangpaningal, Kampung Kuta masih memegang kuat tradisi mereka, antara lain pola pemukiman dan  bentuk rumah mereka. Sayangnya, dalam hal sanitasi, masyarakat di wilayah ini masih menempatkan MCK di pinggir kolam ikan berbentuk bangunan kecil berdinding bilik dan di dalamnya ada pancuran air. Waduh !

Masyarakat kampung Kuta ditabukan untuk membangun rumah tembok dan beratap genteng. Semua rumah harus berbentuk non-permanen dan beratap ijuk atau kiray. Larangan ini dimaksudkan agar penghuni rumah tidak seperti “dikubur” apabila bahan bangunan terbuat dari tanah (genteng).

Namun jika larangan ini dikaitkan dengan kondisi tanah pemukiman yang labil, sesungguhnya larangan tersebut merupakan sebuah adaptasi terhadap kondisi lingkungan alam, karena rumah permanen akan menambah bobot tekanan pada tanah yang dapat menyebabkan tanah ambles atau longsor.

Untuk mendirikan rumah, masyarakat Kampung Kuta terlebih dahulu akan menyesuaikan arah hadap rumah mereka berdasarkan hari kelahiran kepala keluarga. Jika  di tanah yang akan dibangun tersebut sudah berdiri rumah yang lain, maka mereka harus menyesuaikan arah hadap dan posisi pembagian ruang dalam rumah dengan rumah yang sudah terlebih dahulu berdiri.

Antara rumah yang satu dengan rumah yang lain tidak boleh saling memunggungi, sedangkan pembagian ruang dan posisi ruang dalam rumah harus sama dan dibuat berhadapan dengan ruang-ruang yang sama pada rumah yang ada di depannya. Menurut leluhur mereka, antar ruang harus melayani. Pawon (dapur) berhadapan dengan pawon, tengah imah (ruang tengah)  berhadapan dengan tengah imah, begitu seterusnya.

Jiga nu alus nyak, tapi kumaha atuh ari sanitasinya kirang okey?

Dengan latar belakang budaya seperti itu, pengenalan sarana sanitasi kepada masyarakat Kampung Kuta mempunyai cerita tersendiri yang menarik. Terutama dalam pengembangan program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) melalui jalur budaya. Upaya ini, dimulai oleh seorang petugas Kesehatan lingkungan dari Puskesmas Tambaksari, Ibu Cicih.

Awalnya, beliau kesulitan menggugah kesadaran masyarakat di Kampung Kuta ini.  Mulailah Ibu Cicih mengajak tim kesehatan yang dimotori oleh Kepala Seksi Penyehatan Lingkungan, berangkat ke Kampung Kuta untuk mulai melakukan pendekatan melalui kunjungan silaturahmi. Luar biasa sambutannya, puluhan kaum perempuan beserta para pengurus adat tetap menanti dengan setia. Terbersit harapan, mungkinkah ini kemudahan untuk mengajak mereka melakukan perubahan dalam perilaku.

Sambutan awal yang ramah ini perlahan dapat menepis kekhawatiran bahwa masyarakat adat akan menentang program sanitasi. Melalui obrolan santai masyarakat mengenalkan kondisi Kampung Kuta dan budaya masyarakat Kuta yang selama ini dianutnya. Sebaliknya tim kesehatan menyampaikan pesan berkaitan dengan program STBM, termasuk kegiatan STBM yang telah dilaksanakan di beberapa desa yang ada di Kabupaten Ciamis.

Sesepuh adat memberikan informasi bahwa membuat tempat penampungan tinja sebenarnya boleh dilakukan selama tidak dibangun dengan konstruksi tembok serta tidak terletak di sebelah utara dan timur rumah mereka. Tentu saja informasi ini dicatat dan menjadi pertimbangan penting bagi tim kesehatan. Bahkan Informasi ini sangat berharga dan dijadikan sebagai rujukan untuk memfasilitasi perubahan perilaku buang air besar sembarangan dari masyarakat di Kampung Kuta. Terlebih lagi STBM sudah mulai dipahami dan tidak ditolak oleh masyarakat.

Berdasarkan hasil pembicaraan tersebut, satu bulan kemudian tim kesehatan kembali berkunjung ke kampung tersebut untuk memulai menggerakan masyarakat membangun jamban. Jamban dibangun dari bahan-bahan material yang sifatnya ringan dan tidak membebani tanah. Pilihan material seperti bambu, bilik, dan palupuh, selain ringan juga memanfaatkan sumber daya alam di sekitar yang menjadikan pembangunan jamban menjadi murah,dan bahan bahan konstruksi seperti inilah yang dianggap sesuai dengan nilai budaya setempat.

Kini hasil gerakan masyarakat membangun jamban yang tumbuh dari kesadaran kolektif sudah dapat dilihat di Kampung Kuta. Sudah ada 19 titik lokasi sarana sanitasi baru yang dibangun dan bisa diakses oleh 27 kepala keluarga. Masyarakatpun menyadari bahwa semangat menjalankan gotong royong yang diwariskan para leluhurnya sesuai dengan nilai-nilai sosial yang ada dalam kegiatan STBM.

Melihat kondisi dan pengalaman tersebut, promosi perilaku yang dianggap baru, tidak selamanya akan berlawanan dengan kebiasaan dan tradisi setempat. Pemahaman terhadap budaya suatu masyarakat justru dapat dijadikan “pintu masuk” untuk menyesuaikan program kita agar diterima menjadi milik masyarakat secara permanen. Bahkan pemahaman terhadap aspek kebudayaan tersebut menjadikan sebuah program lebih toleran, karena sebuah perubahan mungkin akan dianggap merugikan masyarakat tersebut apabila tidak sesuai dengan kondisi lokal lingkungan hidupnya.

Dari sudut kepentingan pengembangan pendekatan pemberdayaan masyarakat, pemahaman terhadap latar belakang kebudayaan suatu masyarakat akan membuat promosi dan program sanitasi tidak melulu memfokuskan program pada pembangunan dan pemanfaatan jamban bagi masyarakat. Tetapi lebih pada penerimaan oleh masyarakat secara berkesinambungan.

Masyarakat sangat mungkin dilibatkan agar bersama-sama menyadari kepentingan untuk merubah perilaku dan bahkan secara mandiri membangun jamban walau masih sederhana. Tantangan selalu ada, tapi usaha dan doa selalu mereka lakukan. Apresiasi untuk para tetua komunitas adat Kampung Kuta, sesepuh kampung, kuncen adat, kepala dusun, ketua RW, RT bahkan perwakilan pemuda kampung yang sudah ikut terlibat merintis Kampung Kuta menuju Kampung STBM. Semoga harapan menjadi kenyataan.

Tak iyeu, nyaah ka 'kolot', nyaah kanu tradisi anu tos aya. Der ah!

Sumber: Tribun Jabar 22 Oktober 2013
Download/Unduh: Pojok Kang Hebring - Tribun Jabar 22 Februari 2013
 

Comments