Kerjasama Luar Biasa Di Balik Lomba TTG STBM

4_Haryanto Salim salah satu Probono; Teknolog di balik TTG Berbasis WebKisah para profesional yang mendedikasikan keahliannya secara probono alias cuma-cuma tanpa dibayar merupakan sisi lain yang dapat diceritakan dalam penyelenggaraan lomba Teknologi Tepat Guna (TTG) STBM yang saat ini sedang berlangsung. Kisah  ini tentunya sangatlah menarik, pasalnya para relawan tersebut datang dari berbagai latar belakang mulai dari kalangan akademisi, aktivis hingga para profesional di bidang teknologi.

Dukungan ini tentunya sangat berguna dalam pelakasanaan lomba TTG. Terlebih, para relawan dan profesional tersebut telah rela dan ikhlas menyumbangkan tenaga, waktu, dan pikiran mereka dalam lomba yang memilik tujuan untuk mengembangkan pembangunan sanitasi dan higiene di Indonesia ini.

Walaupun kerjasama yang dijalin bersifat probono/gratis,  namun komitmen semua pihak ini dalam mendukung TTG STBM sangatlah membanggakan. Sebab, hal ini merupakan salah satu bukti nyata kuatnya sinergi dan kemitraan diantara para penggiat sanitasi.

Pertemuan awal dengan para relawan berawal dari penemuan sebuah website bernama BIC (Business Innovation Centre), sebuah LSM yang bergerak di bidang inovasi teknologi. Dengan konfirmasi lebih lanjut melalui telepon, tanpa disangka email tentang permohonan dukungan untuk lomba TTG STBM ternyata diterima baik oleh pimpinan lembaga BIC, Haryanto Salim.

Dengan tangan terbuka pria yang akrab disapa Ahow ini pun mengajar bertemu dan tanpa ragu memberi banyak masukan. Di mana, dirinya mengusulkan perubahan bentuk lomba dari konvensional menjadi berbasis web yang tidak menghabiskan berlembar-lembar kertas, sehingga ramah lingkungan dan fleksibel untuk peserta dan juri tentunya. “Dengan lomba berbasis web, para dewan juri juga bisa melakukan penilaian secara online kapan saja dan dimana saja,” terang Ahow.

Terobosan ini tentunya sangatlah mengangumkan, karena dengan hal tersebut  tujuan lomba TTG dalam mendorong perbaikan sanitasi terutama dalam penanganan sampah dapat terlaksana dengan baik.

Selain Ahow, ada banyak relawan lain yang membantu dalam perlombaan ini sebut saja Nana Suryana, Inotek, Sakariza Qori Hemawan dari PT. BNI Persero TBK. Tidak hanya itu, dukungan untuk lomba TTG STBM juga datang dari lembaga profesional seperti Rudi Yuwono dari IATPI, Soedjono Soenhadji dari HAKLI, Nusar Idaman Said dari BPPT, dan Rachim Siahaan dari Puslitbang PU.  Di dunia akademisi sendiri ada sejumlah professor yang membantu terselenggaranya acara ini mereka ialah Prof. Umar Fachmi, Prof Like dan Yuyun Ismawati yang telah rela menyumbangkan waktu dan keahliannya untuk menjadi juri dan pendamping ujicoba teknologi di lapangan.

Yang cukup menarik, dukungan kelembagaan juga datang dari lembaga amal dan media, di mana dalam penyelenggaraan acara ini pihak High Five bekerjasama dengan Pundi Amal SCTV. Generasi muda juga tidak ketinggalan kontribusinya dalam acara ini adalah Johan, Perdinof, Leo, dan Steven. Para mahasiswa Universitas Atmajaya ini sehari-harinya membantu kompilasi proposal lomba dari para peserta melalui Wet dan mereka menggawangi pelaksanaan pameran di stan TTG STBM saat acara KSAN 2013.

Semua sinergi ini  telah meyakinkan kepada High Five bahwa jaringan probono untuk STBM merupakan peluang bagus. Pelibatan relawan muda, corporate fund raising, atau apapun namanya sungguh sangat menarik dan tentunya bisa dikembangkan secara lebih luas, sehingga kedepannya pencapaian STBM dapat lebih baik.

Penulis:  Asep – High Five

Comments