Inovasi Jamban Ramah Lingkungan

Jamban ramah lingkungan atau yang kerap dikenal dengan sebutan bio-toilet memang bukan hal baru. Kendati demikian, sejumlah negara maju di dunia seperti Jepang, Denmark dan Swedia hingga kini terus mengembangkan WC “hijau” tersebut, bahkan dalam beberapa tahun belakangan ini negara-negara tersebut makin gencar melakukan promosi ke berbagai pihak.

bio-toilet1Di Indonesia sendiri, inovasi jamban sehat ini telah mulai dikembangkan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sejak tahun 2007 lalu. Seperti dilansir dari wikipedia, bio toilet adalah kloset kering yang menggunakan sistem pengolahan dengan bantuan bakteri aerob. Artinya, dalam sistem ini urine maupun feses akan diurai oleh bakteri tersebut.

Teknologi bio toilet ini memakai media serbuk kayu sebagai matriks penangkap limbah organik, baik padat maupun cair. Bahkan, limbah dapur sisa makanan juga bisa diolah dalam bio toilet tersebut.

Jamban ini telah didesain khusus untuk tidak menimbulkan pencemaran, karena kotorannya ditampung dalam dry box yang biasanya terbuat dari baja dengan lapisan stainless steel yang cukup tebal.

bio-toilet2Dry box itu kemudian diisi serbuk kayu yang berfungsi menyerap cairan dan bau yang dihasilkan dari kotoran. Serbuk kayu yang telah digunakan juga dapat diganti setiap 3 sampai 4 bulan sekali. Selain membuat pemakaian air berkurang, penggunaan serbuk kayu ini juga berfungsi untuk mengolah limbah menjadi kompos.

Bukan hanya itu saja, Bio Toilet juga memiliki berbagai keunggulan lain mulai dari tidak menimbulkan bau, memiliki bentuk sederhana, hingga tidak memerlukan saluran pembuangan. Oleh karena itu, wajar bila saat ini makin banyak pengguna jamban yang dikenal dengan sebutan “green toilet” itu.

bio-toilet3Dalam salah satu artikelnya, planetsave.com menulisan, di tengah makin maraknya gerakan penyelamatan bumi yang ada saat ini, bio toilet dipandang sebagai salah satu solusi konkrit dalam mengurangi limbah domestik yang sangat berpontensi menyebabkan pencemaran.

Pasalnya, dengan cara kerja bio toilet limbah domestik yang dihasilkan setiap hari, tidak lagi dibuang ke sungai maupun sembarang tempat. Melainkan, akan diubah menjadi kompos yang dapat bermanfaat sebagai pupuk menyubur tanaman.

Selain itu, penggunaan WC kering ini juga dapat menekan kasus diare pada sejumlah daerah padat penduduk. Bahkan, berdasarkan penelitian LIPI bio-toilet mampu mengurai 60 persen feses manusia dalam 1 hari, sehingga dengan keunggulannya tersebut masalah pencemaran lingkungan pun dapat teratasi.

Seiring makin berkembangnya pemakaian bio toilet, berbagai perusahaan pembuat kloset kini mulai berlomba-lomba meluncurkan berbagai produk WC bio toilet dengan berbagai macam desain, baik untuk kloset jongkok maupun duduk. Bahkan, sejumlah perusahan juga bersaing untuk membuat rancangan terbaik yang dapat menarik pembeli.  <CMH>

Comments