Ide "Berobat Gratis Pakai Sampah", Raih Award dari Kerajaan Inggris

Sebagian dari Anda mungkin akan sedikit mengerutkan dahi saat membaca judul tulisan ini, namun inilah fakta yang sekarang sedang terjadi di daerah Malang, Jawa Timur berkat adanya Klinik Asuransi Sampah yang didirikan oleh Gamal Albinsaid.

gamal-albinsaidGamal begitulah sapaan akrab dokter muda lulusan Universitas Brawijaya ini biasa dipanggil. Belum lama ini pemuda 24 tahun tersebut baru saja menjadi topik hangat di berbagai media baik cetak, eletronik, maupun online. Pasalnya, Gamal baru saja menerima Youth Sustainable Living Award dari Kerajaan Inggris.

Penghargaan itu sendiri diberikan langsung oleh Pangeran Charles di Istana Buckingham yang disaksikan oleh CEO Unilever, Paul Polman, Vice Canchellor dari Universitas Cambridge, Prof. Sir Leszek Borysiewicz dan dihadapan sejumlah pemimpin organisasi dan perusahaan terkemuka lainnya.

Pada kompetisi tersebut Gamal berhasil menyisihkan 510 peserta dari 90 negara yang turut berpartisipasi pada perlombaan itu. Dengan keberhasilannya ini Gamal juga berhak atas sebesar 50 ribu euro atau sekitar Rp 820 juta dari Kerajaan Inggris. Selain itu, Klinik Asuransi Sampah binaan Gamal juga berhak mendapatkan bimbingan  dari Programme Sustainable Living, Cambridge University.

Dalam sambutannya, Pangeran Charles mengatakan bahwa dirinya sangat mengapresiasi terobosan Klinik Asurasnis Sampah yang diprakarsai oleh Gamal tersebut. Menurutnya Klinik Asuransi Sampah ini sangat solutif karena dapat menyelesaikan dua masalah sekaligus yaitu mengurangi sampah dan meningkatkan derajat kesehatan.

Program penghargaan internasional ini dirancang untuk menginspirasi pemuda di seluruh dunia untuk menyelesaikan isu lingkungan, sosial, dan kesehatan. Kompetisi ini mengundang wirausaha yang berusia di bawah 30 tahun untuk memberikan solusi yang menginspirasi, praktis dan jelas untuk membantu mewujudkan hidup berkelanjutan.

Seperti dikutip dari BBC.com, Gamal menerima penghargaan karena inovasinya dalam mendirikan Klinik Asuransi Sampah. Di mana, masyarakat yang ingin berobat di klinik tersebut tidak perlu membayarnya dengan duit, namun cukup membayar dengan sampah yang disetorkan setiap bulannya layaknya membayar premi asuransi.

Gamal dan sampah copyDalam situs pribadinya, Gamal menjelaskan bahwa sampah organik yang terima dari para anggota akan diolah menjadi pupuk, sedangkan sampah kering seperti botol plastik, kardus, dan kertas akan dijual ke pengepul. “Setiap sampah yang disetorkan oleh anggota akan dihitung sesuai dengan jenis sampah yang mereka berikan; wal hasil penukaran sampah inilah yang digunakan sebagai ganti biaya berobat,” tulis Gamal.

Saat ini jumlah anggota klinik besutan Gamal ini pun telah berjumlah sekitar 500 orang. Para anggotanya sendiri akan diberikan kartu layaknya peserta asuransi. Ada lima klinik yang kini menerapkan sistem dengan menukarkan sampah dengan kartu asuransi ini.

Gamal menambahkan, kedepannya berharap dapat mengembangkan Klinik Asuransi Sampah ini, sehingga masyarakat terutama kalangan menengah kebawah tidak lagi kesulitan dalam mendapatkan pelayanan kesehatan.

“Saya juga mulai berfikir untuk mengembangkan konsep ini ke bidang pendidikan dengan mendirikan Sekolah Asuransi Sampah, sehingga masyarakat tidak mampu bisa mendapatkan pendidikan hanya dengan membayar melalui sampah,” ujarnya.

Gamal menambahkan bahwa dirinya juga sangat senang dan bersyukur atas Award yang diterimanya tersebut. <CMH>

 Sumber berita:  BBC.com dan Kompasiana.com

Comments