446 Desa Program SHAW Berhasil Deklarasi Desa STBM 5 Pilar

Data terbaru SHAW menunjukkan bahwa hingga akhir 2013 sebanyak 446 desa binaan program SHAW telah melakukan deklarasi STBM 5 pilar. Seperti diketahui dalam menjalankan program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) SHAW bekerja sama dengan lima mitra yaitu CD Bethesda, Plan Indonesia, Yayasan Rumsram, Yayasan Dian Desa, dan Yayasan Masyarakat Peduli.

1_foto ShawMenurut pihak SHAW, capaian ini sebenarnya masih belum memenuhi target capaian SHAW yang sebanyak 1074 desa, kendati demikian pihaknya akan terus berupaya untuk memenuhi target tersebut, sehingga dapat tercapai dengan maksimal.

Optimisme yang sama dalam mencapai target ini juga diutarakan oleh mitra SHAW yaitu Nasarrudin selaku Koordinator Program STBM dari yayasan Runsram. Menurutnya, ketika akhir program SHAW pada penghujung 2014 mendatang target desa ini akan diusahakan tercapai optimal.

Saat diwawancara melalui telepon, Nasaruddin mengungkapkan bahwa dari target 63 desa yang deklarasi di Kabupaten Biak Numfor, sampai akhir 2013 lalu baru sebanyak 8 desa yang berhasil melaksanakan deklarasi STBM 5 pilar.

Kendati demikian, Nasaruddin mengaku bahwa pihaknya terus melakukan upaya  untuk mengejar target tersebut. “Hasilnya dalam waktu dekat ini ada sebanyak 15 desa di Biak yang akan melaksanakan deklarasi STBM pada bulan Mei 2014 ini,” ujar Nasaruddin

Sekadar informasi, dalam menjalankan program STBM, yayasan Runsram fokus pada dua daerah yang ada di Propinsi Papua yaitu Kabupaten Biak Numfor dan Kabupaten Supiori. Di mana, dalam waktu dekat ini 1 desa di Supiori juga akan melaksanakan Deklarasi STBM 5 pilar.

Menurut Nasaruddin, ketertarikan yayasan Runsram dalam melaksanakan program STBM ialah karena kondisi sanitasi di Papua masih sangat jauh dari kata layak hingga menyebabkan KLB Diare. “Hal inilah yang memacu kami yayasan Runsram untuk menjalankan program STBM di wilayah ini,” tuturnya.

Selanjutnya dia menjelaskan, salah satu upaya yang dilakukan dalam mencapai target ialah dengan melakukan pendampingan intensif kepada desa-desa yang sudah mendapat pemicuan diawal. “Setiap minggu sekali setidaknya kami melakukan pendampingan maupun promosi ke desa-desa yang menjadi binaan kami. Di mana kegiatan promosi biasanya dilakukan setelah warga menjalankan ibadah di gereja” terangnya.

Adapun, kendala yang harus dihadapai dalam mencapai hal tersebut ialah masih rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat. Selain itu, dukungan SKPD juga dirasa belum optimal. Misalnya saja, saat ini pemerintah daerah telah mengembangkan rumah layak huni bagi masyarakat, namun rumah tersebut tidak dilengkapi kamar mandi. “Sehingga pada akhirnya warga tetap melakukan praktek buang air besar di sembarangan tempat,” jelasnya.

Nasarrudin mengungkapkan seiring berjalannya waktu saat ini dukungan dari semua pihak untuk mencapai kondisi sanitasi yang lebih baik melalui program STBM telah semakin nyata terlihat. Buktinya, di Kabupaten Biak telah ada 1 Puskesmas yang akan mengambil alih program STBM ini saat program SHAW berakhir nanti. “Saat ini kami juga masih melakukan penjajakan dengan puskesmas lainnya, tujuannya tidak lain untuk keberlanjutan program STBM,” kata Nasar.

Dia menerangkan, walaupun di akhir tahuin 2014 ini STBM SHAW akan berakhir, warga diharapkan dapat selalu menjaga fasilitas sanitasi yang telah ada. Terkait penerapan Teknologi Tepat Guna di Biak kini setidaknya telah dikembangkan sejumlah produk TTG diantaranya kran injak dan keramik filter. <CMH>

Comments