Martina Awak, Bantu Berantas BABS di Biak

“Bila buang air besar sembarangan, maka bisa saja kotoran kita akan dihinggapi lalat dan dimakan anjing, kemudian anjing tersebut bermain dengan anak kita dan lalatnya hinggap di makanan. Bila ini terjadi maka kita akan mengalami diare”.

DCIM100MEDIABegitulah ungkapan salah seorang fasilitator dari Yayasan Runsram yang selalu diingat Martina Awak relawan STBM Distrik Warsa.

Menurutnya, kata-kata itulah yang akhirnya memicu dirinya untuk tidak lagi melakukan praktek BABS dan terjun sebagai relawan STBM di kampung Komboi, Distrik Warsa, Kabupaten Biak, Papua.

“Saat mendengar penjelasan itu, saya merasa jijik karena membayangkan kemungkinan  tersebut bisa saja terjadi. Hal itulah yang akhirnya memicu saya untuk menjadi relawan  STBM,” terangnya.

Martina Awak merupakan salah satu dari 14 relawan STBM kampung, yang akhirnya bertekad untuk menyampaikan pesan-pesan kebersihan lingkungan dan higiene kepada warga. Salah satu tujuannya ialah untuk menekan angka kasus diare dan malaria di wilayah Warsa yang masih cukup tinggi. Di mana, salah satu penyebab hal itu terjadi karena belum optimalnya kondisi sanitasi.

Ibu dari 10 anak ini menerangkan, pada awal keterlibatnya sebagai relawan STBM dia sempat merasa ragu apakah bisa menjalankan tugas dengan baik atau tidak, namun dengan dorongan dari keluarga dan niat kuat agar warga Warsa bisa lebih sehat akhirnya Martina berkomitmen untuk menjadi relawan STBM.

Dalam memicu perilaku higiene warga di kampungnya, Martina menerangkan bahwa dia memulai dengan menyadarkan keluarganya terlebih dulu. Dalam hal ini Martina membuatkan sarana cuci tangan sederhana untuk anak-anaknya, hal tersebut agar keluarganya menerapkan perilaku Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS). Hal ini ternyata diikuti oleh warga lainnya.

Dengan bantuan relawan lain  dan juga untuk mempercepat penerapan PHBS, wanita berkulit sawo matang ini akhirnya merealisasikan program Kampung Bersih. Di mana, dalam program tersebut Martina menerapkan 5 pilar STBM.

Menurutnya, dalam merealisakan PHBS bukanlah hal mudah. “Bahkan, waktu awal saya pernah diusir warga ketika mencoba menjelaskan tentang pendekatan STBM,” katanya.

Dia menerangkan, perjalanan STBM di Kampung Komboi tidaklah selalu berjalan mulus, melainkan banyak pasang surut yang dialami. Kendati demikian, dengan kegigihan dan semangat yang Martina miliki akhirnya kampung ini berhasil melaksanakan deklarasi 5 pilar STBM.

Bukan hanya tidak lagi melakukan praktek BABS, setiap rumah warga di kampung Komboi saat ini juga telah melakukan pemisahan sampah antara sampah organik dan non-organik. “Bahkan, di setiap pagar rumah kini telah tersedia karung plastik yang digunakan untuk mengumpulkan sampah,” ujar wanita berambut keriting tersebut.

MartinaAdapun salah satu pendekatan yang dilakukan Martina ialah dengan rutin berkomunikasi kepada kaum ibu akan pentingnya melakukan PHBS. Dalam kesempatan tersebut, wanita berkulit gelap ini juga memaparkan sejumlah bahaya yang dapat disebabkan karena buruknya kondisi sanitasi.

Kegigihan Martina dalam memicu warga untuk melakukan PHBS memang patut diacungkan jempol. Betapa tidak, berkat semangatnya Kampung Opuri yang ada di Distrik Biak Barat menjadi ikut terpicu ketika mendengar upaya Martina dalam menerapkan PHBS di Komboi.

Bagi Martina, tidaklah mungkin berubah hanya karena melihat orang lain, namun perubahan akan menjadi sebuah kebiasaan yang baik jika diawali dari diri sendiri, dan keluarga yang akhirnya akan mempengaruhi orang lain. <CMH>

Sumber:  Jefry Simanjuntak (Yayasan Rumsram)

Comments