Papsigro, Dukung Grobogan Stop BABs

Kloset Produk PapsigroPlan Indonesia Program Unit Grobogan telah mengakhiri proyek CLTS (Community Led Total Sanitation) di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, pada Desember 2012 lalu. Setelah dua tahun berjalan, Plan Indonesia berhasil mendorong 149 Desa dari  10 Kecamatan untuk mendeklarasikan diri sebagai desa yang bebas dari perilaku Buang Air Besar Sembarangan (BABs).

Proyek CLTS merupakan bagian dari intervensi Plan Indonesia  di bidang kesehatan di Indonesia. Di Kabupaten Grobogan, proyek ini dimulai sejak tahun 2010, dengan tujuan utama adalah mengubah perilaku warga untuk tidak melakukan buang air di sembarang tempat (Stop BABS).

Kendati proyek ini telah berakhir, namun pemerintah Kabupaten Grobogan diharapkan bisa menjaga momentum positif tersebut agar cita-cita menjadikan Grobogan sebagai kabupaten bebas BABS tahun 2014 bisa menjadi kenyataan.

Untuk mengubah perilaku warga agar tidak melakukan BABS dan meningkatkan kualitas sarana sanitasi yang layak, salah satu yang dilakukan Plan Indonesia adalah mengembangkan program wirausaha sanitasi, yang melibatkan wirausaha lokal. Di mana, tujuan utama wadah yang menamakan diri Paguyuban Pengusaha Sanitasi Grobogan (Papsigro) ini adalah membantu warga dan Pemkab Grobogan, dengan menyediakan paket toilet yang murah dan berkualitas.

Mereka punya kontribusi yang cukup besar dalam mengubah perilaku warga untuk tidak BAB di sembarang tempat “Sejauh ini, Papsigro telah menjual lebih dari 1.246 kloset; 2.194 buis beton; 335 paket toilet lengkap; dan 22 cetakan kloset ke Grobogan dan sekitarnya,” kata Program Manager Air dan Penyehatan Lingkungan (WASH) Plan Indonesia Eka Setiawan.

Dalam perjalanannya, Papsigro berkembang menjadi bisnis yang permanen. Produk-produk sanitasi yang mereka produksi tidak saja memenuhi kebutuhan warga  di Kabupaten Grobogan, namun juga ‘diekspor’ ke kabupaten lain di wilayah Jawa, bahkan sampai ke Nusa Tenggara Timur. Kegiatan mereka pun mendapat perhatian dari lembaga lain. World Bank, misalnya, pernah menjadikan Papsigro sebagai tempat studi banding untuk pengembangan pemasaran sanitasi.

Bukan hanya itu, Papsigro juga telah berhasil menciptakan wirausaha sanitasi sukses. Salah satunya ialah Pardiyanto wirausaha sanitasi asal Dorolegi, Jawa Tengah yang kini lebih dikenal dengan sebutan Juragan Jamban. Di mana, julukan tersebut langsung melekat, begitu Pardiyanto menekuni jual beli kloset di kampungnya.

OLYMPUS DIGITAL CAMERAMenurut Yanto, ketertarikannya menekuni wirausaha sanitasi bukan hanya sekadar mencari laba semata, melainkan juga terdorong untuk menjadikan kampungnya sebagai daerah bebas BABS. “Selain itu, kami juga  ingin membantu warga dalam menyediakan kloset murah,” ujarnya.

Kloset buatan Yanto memang tergolong murah jika dibandingkan kloset jongkok serupa di pasaran. Pasalnya, Yanto hanya membandrol kloset dengan harga Rp 30-40 ribu rupiah saja, padahal bila dipasaran harga kloset serupa bisa mencapai Rp 200 ribu per unit.

Yanto menceritakan, pada awalnya dirinya tidak pernah berpikir untuk menjadi wirausaha sanitasi. Usaha ini mulai dirintis, ketika Grobogan sedang mengkampanyekan pola hidup sehat dengan tidak buang air besar di sembarang tempat. Salah satu bagian program ini adalah mendorong warga membangun jamban di rumah.

Kata Yanto, sejak usaha ini dijalankan, dirinya sudah bisa menjual lebih dari 300 unit kloset. Selain itu, kini dia juga menawarkan buis beton semacam tabung dari beton yang berfungsi sebagai septictank. Adapun paket yang ditawarkan Yanto yaitu mulai dari Rp 500 ribu hingga Rp 1,4 juta tergantung tipe yang dipesan.

Berkat usaha ini, kini ratusan warga di Desa Dorolegi sudah bisa memiliki jamban, sehingga tidak lagi melakukan praktek Buang Air Besar Sembarangan. “Dengan adanya kloset murah ala Papsigro, kini semua warga kami mampu membuat jamban di rumahnya,” ujar  Kepala Desa Dorolegi, Muhammad Dawan. <CMH>

Sumber:   Tim Komunikasi Plan Indonesia

Comments