Peluang bisnis sanitasi sekaligus tingkatkan peluang capai target MDGs

Sebagai salah satu upaya peningkatan kualitas jamban sehat, wirausaha sanitasi dipandang sebagai langkah efektif dalam peningkatan akses sanitasi layak kepada masyarakat. Pasalnya, melalui wirausaha sanitasi masyarakat akan terbantu untuk memiliki sarana sanitasi layak dengan mudah dan terjangkau.

3_foto untuk artikel wusan dukung,, copySeperti dikutip dari tempo.com dalam artikel yang berjudul “57 Juta WNI yang Buang Air Besar Sembarangan” (13/04) menuliskan, sebanyak 57 juta penduduk Indonesia masih melakukan praktek Buang Air Besar Sembarangan (BABS), di mana 40 juta diantaranya tinggal di perdesaan.

Kondisi tersebut tentunya tidak diharapkan, karena jelas sebagai beban tersendiri bagi  amanat pencapaian target MDGs 2015 bahwa setidaknya lebih dari separuh penduduk Indonesia pada tahun tersebut telah terlayani akses sanitasi layak.

Berangkat dari itu, untuk mendorong penyediaan sarana sanitasi yang masih minim di tingkat masyarakat dan juga untuk menghapuskan praktek BABS, WSP-World Bank bekerjasama dengan APPSANI (Asosiasi Pengelola dan Pemberdayaan Sanitasi Indonesia) memfasilitasi pelatihan wirausaha sanitasi yang diadakan di sejumlah provinsi seperti, Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, NTB dan Jawa Tengah.

Bukan hanya bertujuan untuk menyiapkan pengusaha sanitasi yang mumpuni, pelatihan ini juga diharapkan dapat menjadi motor penggerak dalam pelaksanaan STBM.

Masih banyaknya warga yang melakukan praktek BABS dan rendahnya jumlah kepemilikan jamban sehat permanen merupakan peluang sendiri bagi masyarakat untuk mencetak pengusaha atau wirausaha sanitasi.

Peluang wirausaha sanitasi masih terbuka lebar. Asosiasi Pengelola dan Pemberdayaan Sanitasi Indonesia (APPSANI) sendiri contohnya, sampai saat ini telah mencetak lebih dari 200 wirausaha sanitasi yang tersebar di beberapa daerah. Diharapkan, dengan makin banyaknya wirausaha sanitasi yang bermunculan maka perbaikan kondisi sanitasi pun dapat dicapai dengan maksimal.

Bukan hanya sekedar membantu dalam penyediaan sarana sanitasi bagi masyarakat saja, para wirausaha sanitasi juga diharapkan dapat memacu proses perubahan perilaku di masyarakat.

Untuk lebih memudahkan warga dalam memiliki sarana sanitasi layak, biasanya para wirausaha sanitasi memberlakukan sistem pembayaran secara kredit. Contohnya saja Muhlisan, salah seorang wirausaha sanitasi dari Sape NTB ini menerapkan mekanisme pembayaran secara kredit sebanyak 3 kali pembayaran bagi warga Sape yang ingin membangun jamban.

Selain itu, biasanya warga juga diberikan beberapa pilihan tipe dan harga dalam membangun jamban mulai dari yang berharga ratusan ribu hingga jutaan rupiah yang disesuaikan dengan kemampuan masing-masing kepala keluarga.

Sementara itu, Chairel Malelak wirausaha sanitasi di Kefa menyatakan bahwa dalam menjalankan pembuatan jamban murah ini bukan hanya keuntungan yang dikejar, melainkan juga ingin memudahkan masyarakat kurang mampu untuk memiliki kloset dengan mudah dan terjangkau. <CMH>

Comments