Samudera Biru Pemasaran Sanitasi

Tepat satu bulan setelah acara High-Five Culmination Ceremony, sebuah akun media sosial @khamid khatam menuliskan ”Khusus bagi yang belum memiliki jamban, namun hanya memiliki dana terbatas Pokja STBM-Kelurahan Petemon, Surabaya  menyediakan jasa pembangunan jamban sehat dengan cara dicicil” 2_Bu Risma & Pak Khamid Acara Lomba Jalan STBM copyBagi sebagian pihak, terutama yang berkecimpung di bidang air minum dan sanitasi, iklan pemasaran ini mungkin terkesan biasa, terlebih kini telah banyak yang melakukan wirausaha sanitasi. Dalam hal ini, yang menarik bukan karena memasarkan jasa pembangunan jamban di media sosial, melainkan tentang bagaimana sebuah kelompok masyarakat kecil yang ada di kelurahan bisa membangun usaha kredit jamban seperti itu. Bila ditanya mengenai pendapat terkait hal tersebut, Saya beranggapan bahwa ini merupakan suatu yang menggembirakan. Dari kasus ini juga bisa dilihat bahwa kemitraan inovatif menjadi kunci penting yang bisa dijadikan pembelajaran bagi para penggiat STBM dimanapun. Pasalnya, hal tersebut mampu membuka jalan bagi sebuah komunitas kecil untuk bisa terus mengembangkan program pemiciuan. Bahkan, mereka juga bisa membantu menyediakan sarana sanitasi layak dengan mudah dan terjangkau bagi masyarakat. Berdasarkan informasi, seiring makin gencarnya pemasaran sanitasi yang dilakukan pemesanan kredit jamban pun kian hari semakin bertambah. Bahkan, saat ini Pokja STBM Kelurahan Petemon juga telah pengembangkan SDM dengan menambah dan memberikan pelatihan kepada sejumlah tukang, sehingga permintaan pun bisa segera dipenuhi. Sejalan dengan makin tingginya kesadaran masyarakat tentang pentingnya jamban sehat, Pokja STBM Petemon kini juga tengah mengembangkan usaha melalui penyediaan jasa menyedotan lumpur tinja, terutama untuk kawasan permukiman sempit dengan memanfaatkan molsta/kedoteng (kereta dorong septic tank) yang kemudian dibuang ke sistem IPLT yang dikelola UPT Kota Surabaya. Semua capaian yang dilakukan Pokja STBM Petemon ini memang bukanlah hal mudah, namun berkat semangat semua anggotanya, kini Pokja tersebut sudah bisa berkembang layaknya sekarang. Pada awalnya, Pokja STBM Petemon hanyalah berisi sekumpulan masyarakat yang terpicu dan akhirnya sepakat untuk meningkatkan kondisi sanitasi di lingkungan tempat tinggalnya. Dengan bekal pelatihan mengenai STBM dan sedikit teknik dasar fasilitasi yang didapat dari para sanitarian setempat, akhirnya mereka pun giat dalam melakukan pemicuan kepada warga lainnya. Semangat warga ini pun bagai gayung bersambut, pasalnya Walikota Surabaya, Tri Rismaharini mendukung kegiatan mereka. Tepatnya, pada Februari 2013, Tri Risma berkenan hadir dalam acara peresmian pembangunan jamban sehat yang sekaligus dimeriahkan dengan acara gerak jalan STBM. Melalui acara tersebut, secara otomoatis informasi mengenai STBM pun semakin tersebar luas kepada khalayak ramai, sehingga STBM pun jadi kian dikenal. Bukan hanya itu, kegiatan Pokja Petemon juga berhasil mendapat dukungan dari Pundi Amal SCTV yang berkomitmen untuk membantu mendorong pembangunan jamban sehat kepada warga. Dari hasil diskusi singkat kepada sejumlah pihak swasta, mereka menyatakan bahwa ketertarikan mereka dalam  memberikan dukungan karena merasa diberi ruang yang memadai untuk memutuskan kapan dan bagaimana cara berkontribusi. Keberhasilan Pokja Petemon dalam memajukan pemasaran wirausaha sanitasi tentunya bisa dijadikan satu pembelajaran positif bagi semua pihak tentang bagaimana mengemas sesuatu hal menjadi menarik dengan membuka ruang interaksi dan komunikasi secara kreatif. Hasilnya, mereka pun berhasil mendapatkan kemitraan dan dukungan dari banyak pihak. Kreatif yang dimaksud ialah mulai dari upaya menarik dukungan sang walikota dan mengemasnya dengan acara gerak jalan, kemudian memanfaatkan untuk kampanye STBM secara lebih luas. Selain itu, berkat kreatifitas tersebut Pokja STBM Petemon juga berhasil mendapat kunjungan dari SIKIB (Solidaritas Isteri Kabinet Indonesia Bersatu). Belajar dari Pokja STBM Petemon, sebuah refleksi yang menarik bahwa pemasaran sanitasi (sanitation marketing)  pada akhirnya memang tidak sekadar sebatas pemasaran jasa pembangunan jamban sehat saja, melainkan lebih dari itu, seperti dalam - “Blue Ocean Strategy: How to Create Uncontested Market Space and Make Competition Irrelevant”, pada akhirnya kita dituntut untuk membangun dan menciptakan ruang interaksi dan komunikasi secara kreatif, termasuk untuk urusan sanitasi dan higiene. Sebab, ruang interaksi dan komunikasi kreatif bisa menjadi ruang yang nyaman bagi para pemangku kepentingan, sehingga mereka bisa berpikir secara memadai dan kemudian memutuskan kapan dan bagaimana mereka akan berkontribusi. Dalam mencapai universal access 2019, yang mengamanatkan 100% akses pemenuhan layanan air minum dan sanitasi layak kepada masyarakat Indonesia kreatifitas dalam menciptakan ceruk-ceruk pemasaran sanitasi tentunya juga dibutuhkan dan selagi kita terus berinovasi dan melakukan kreasi, maka peluang  baru juga bisa kian luas terbentang, sehingga kondisi sanitasi akan terus berkembang kearah lebih baik. <CMH> Sumber:  Asep M. Mulyana (High Five)

Comments