Bayuniarsih, Pantang Menyerah Memicu Warga Terapkan PHBS

4

Pantang menyerah itulah hal pertama yang diungkapkan Bayuniarsih, salah seorang sanitarian  dari Puskesmas Montong Betok, Kecamatan Montong Gading, Lombok Timur saat ditanya mengenai apa yang dirinya lakukan dalam memicu Peril aku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) warga di wilayahnya.

Menurutnya, semangat pantang menyerah inilah yang membuat dirinya terus optimis dalam memicu warga Montong Betok untuk menerapkan PHBS dalam kegiatan mereka sehari-hari. Hal tersebut karena dia mengaku, merasa terpangil dalam menjalankan STBM.

Dia menceritakan, saat awal memperkenalkan STBM dirinya sempat menghadapi penolakan. Bahkan, dirinya juga sempat dicemooh dan ditentang oleh sebagian warga. Hal ini tentunya tidak mudah, apalagi penentangan tersebut dilakukan oleh pemuda dan tokoh masyarakat.

Kata Bayuniarsih, hal ini terjadi karena warga sudah terbiasa dengan sejumlah program bersubsidi yang ada sebelumnya, sedangkan di STBM hal tersebut tidak dilakukan.

Bantuan sosial bersubsidi tersebut ternyata banyak mempengaruhi pikiran dan pandangan masyarakat. Pasalnya, warga jadi beropini bahwa mustahil bila ada program yang dilakukan tanpa subsidi. Bayuniarsih menerangkan, kondisi warga ini tentu sangat berpengaruh, karena hal tersebut membuat warga jadi sulit untuk mandiri dan bergotong royong dengan sesama warga lainnya.

5

Kendati demikian, dengan semangat yang disertai keyakinan yang kuat akhirnya pandangan negatif masyarakat tentang STBM pun akhirnya sirna, bahkan saat ini bersama mitra dan para kader dari YMP_NTB, Bayuniarsi bisa dikatakan telah berhasil memicu warga untuk menerapkan PHBS.

Bukan hanya itu, saat iniwarga pun telah secara sukarela bergotong royong dalam meningkatkan kondisi sanitasi di Montong Betok. Salah satu contohnya mereka saat ini secara sukarela bergotongroyong dalam membangun jamban. Bahkan, sebagian masyarakat dan pemerintah desa yang telah terpicu mengaku akan melanjutkan STBM lima pilar meski tanpa dampingan dan bantuan pihak lain, karena merasa itu adalah milik dan tanggung jawab mereka.

Lulusan Akademi Penilik, Mataramini menambahkan bahwa pendekatan STBM membuat masyarakat menjadi mandiri dengan mengidentifikasi masalahnya sendiri. Kemudian melalui bantuan para kader dan sanitarian masyarakat pun dibimbing untuk bisa mengatasi masalah melalui pemicuan terkait PHBS.

Kegigihan Bayuniarsi dalam memicu PHBS warga ternyata berbuah manis. Faktanya, kedelapan desa binaan Bayuniarsih kini memperlihatkan perkembangan yang cukup membanggakan, di mana dalam waktu dekat ini rencananya sebelum Agustus 2014  desa-desa tersebut sudah bisa menerapkan 100% lima pilar STBM.

Guna mempercepat penerapan STBM lima pilar, kini Bayuniarsih bersama para kader juga sudah membuat peta rawan sanitasi, di mana melalui peta tersebut para kader akan melaporkan berapa angka kesakitan yang nantinya akan dikaitkan dengan kondisi sanitasi lingkungan tersebut.

Misalnya, bila hasil laporan menunjukkan masih banyak warga yang menderita diare maka Bayuniarsih pun akan melakukan pemiciuan kepada warga di dearah tersebut.

Selain itu, untuk lebih meningkatkan kondisi sanitasi dan air bersih di wilayahnya kini Bayuniarsih juga saat ini tengah menjadi mediator masyarakat dan sejumlah pihak dalam upaya penyelamatan sumber mata air dan hutan di daerah Lombok Timur. Tim YMP-NTB

 Editor: CMH/Yulita

       

Comments