NTB Gencar Lakukan Promosi Kesehatan Untuk Peningkatan PHBS

BCC-NTB

Dalam Workshop “Peningkatan Kapasitas Penyusunan Strategi Promosi Perubahan Perilaku Hygiene dan Sanitasi yang dilaksanakan di Provinsi Nusa Tenggara Barat  pada April 2014 lalu, Kepala Bidang P2PL, Dinas Kesehatan Provinsi NTB, Ketut Artastra mengatakan bahwa dirinya sangat antusias dengan terselenggaranya kegiatan ini.

“Acara ini sangat positif, sebab sebelumnya program-program yang ada selama ini tampak berjalan sendiri-sendiri. Dengan adanya kegiatan ini program yang ada dapat dilaksanakan secara terpadu dengan dukungan penuh dari masing-masing pihak,” kata Ketut dalam sambutannya pada pembukaan workshop.

Menurutnya, adanya keterkaitan antara bidang penyehatan lingkungan dan promosi kesehatan sebetulnya saling terkait, oleh sebab itu kegiatan ini diharapkan bisa menjadi pembelajaran bagaimana agar program-program yang ada bisa terpadu, salah satunya melalui pertemuan-pertemuan untuk membicarakan strategi penulisan di media sehingga lewat media tersebut akan diinformasikan seluruh kegiatan yang wajib untuk disosialisasikan baik kepada internal maupun masyarakat luas.

Di samping itu diharapkan pula dukungan Pemda dan Bappeda untuk dapat bekerjasama, khususnya mengenai STBM. Sebab, di abad 21 seperti saat ini seharusnya program yang ada tidak lagi bicara soal jamban tetapi bagaimana masyarakat betul-betul sudah memiliki akses terhadap air bersih, yang dalam hal ini sudah tercapai juga 70-80%.

Lebih lanjut, Ketut Artastra mengungkapkan, ada sejumlah tantangan yang dihadapi Pemerintah NTB dalam peningkatan sektor air minum dan sanitasi, salah satunya ialah perilaku buang air besar sembarangan seperti di sungai, sawah, kolam, kebun dan tempat terbuka lainnya. Di mana, hal tersebut erat kaitannya dengan pencemaran air yang berakibat pada tingginya angka kejadian diare.

Selain itu, hasil studi Basic Human Service (BHS) tahun 2006 menunjukkan bahwa perilaku masyarakat dalam mencuci tangan setelah buang air besar juga masih terbilang rendah. Berdasarkan fakta di atas, Pemerintah NTB berkomitmen melakukan upaya percepatan peningkatan akses terhadap sanitasi layak untuk mencapai target MDGs.

Salah satunya melalui pendekatan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM), di mana pendekatan ini menitik beratkan pada perubahan perilaku masyarakat secara kolektif melalui komponen, penciptaan kebutuhan (Demand),penyediaan layanan (Supply),  dan penciptaan kondisi lingkungan yang kondusif (Enabling Environment).

Melalui pendekatan STBM, saat ini terdapat sejumlah pendekatan yang melibatkan warga secara langsungm tujuannya ialah untuk mendukung percepatan perubahan perilaku hidup bersih dan sehat di tingkat masyarakat. Pendekatan yang dilakukan ialah  dengan mengembangkan program “BERLIAN” (Bersih Lingkungan dan Sanitasi) yang merupakan rumah besar dari program “BASNO” (Buang Air Besar Sembarangan Nol) yang  dalam implementasinya menggunakan  pendekatan STBM dengan strategi sinergitas  3 komponen STBM.

“Upaya yang lebih strategis perlu dilakukan dalam membangun Strategi Promosi perilaku Hygiene dan Sanitasi untuk mempercepat terjadinya perubahan perilaku masyarakat yang lebih higienis dan saniter. Oleh sebab itu, yang perlu ditingkatkan lagi adalah bagaimana cara implementasi alias action lebih banyak daripada planning dan sosialisasi yang hanya menjadi omongan belaka,” ujar Ketut

Lebih lanjut dia menerangkan, dalam memaksimalkan hasil dari semua upaya yang telah dilakukan  monitoring dan evaluasi  terhadap Kabupaten/Kota harus terus ditingkatkan. Hal ini juga harus sejalan dengan penyebaran informasi yang tepat dari Dinas Kesehatan Provinsi. “Sehingga, nantinya akan ada supervisi yang bersifat terpadu,” pungkas Ketut. <CMH>

Comments