Tingkatkan Kondisi Sanitasi, Bali Lakukan Komunikasi Perubahan Perilaku Kepada Masyarakat

Berdasarkan laporan Puskesmas setempat saat ini di Bali terdapat 10 jenis penyakit paling banyak terjangkit, salah satunya adalah diare yang dialami masayarakat dewasa dan anak-anak. Dari data tersebut, disadari bahwa kualitas sanitasi dan air harus menjadi prioritas. Pasalnya, hal tersebut erat kaitannya dengan kesehatan masyarakat dan lingkungan.

Salah satu upaya yang bisa dilakukan dalam menanggulangi hal tersebut ialah adanya perubahan perilaku hidup bersih dan sehat dari masyarakat itu sendiri. Maka dari itu dalam mendukung hal ini, Bali gencar melakukan promosi kesehatan kepada masyarakat.

BCC_Bali-photoSalah satu upaya yang dilakukan ialah mengadakan Lokakarya Peningkatan Kapasitas Penyusunan Strategi Promosi Kesehatan (Promkes) Sanitasi dan Higiene di Provinsi Bali pada beberapa waktu lalu. Di mana, kegiatan yang diadakan pada 15-17 April 2014 lalu itu diselenggarakan dalam rangka penyusunan strategi promosi kesehatan bidang sanitasi dan hygiene.

Adapun tujuan lebih lengkap dari pelaksanaan kegiatan tersebut diantaranya adalah mengidentifikasi pengalaman kabupaten/kota di Provinsi Bali dalam mengimplementasi strategi promosi hygiene dan sanitasi melalui media cetak dan elektronik, membangun pemahaman akan target masyarakat/sasaran promkes dibidang sanitasi dan hygiene yang tepat guna, serta mengadaptasi konsep strategi promosi hygiene dan sanitasi dalam konteks lokal.

Selain itu, kegiatan ini juga dilakukan sebagai sarana konsultasi  dan menyepakati penggunaan sumberdaya di promkes provinsi dan kabupaten untuk mendukung program sanitasi dan hygiene, menyusun strategi dan rencana kegiatan promosi perubahan perilaku kabupaten kota dan provinsi, serta membangun pemahaman bersama pelaku STBM terkait website STBM.

Dalam lokakarya yang dibuka oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali, disebutkan bahwa sesuai dengan indikator MDG’s terkait sanitasi dan air, Provinsi Bali masih mengalami masalah terkait akses. Proporsi rumah tangga dan akses hanya 44,19% dari target MDG’s sebanyak  68,87%. Masih banyak perilaku Buang Air Besar Sembarangab yang berdampak buruk bagi kesehatan. Belum lagi masalah lingkungan seperti wabah DBD yang kerap menyerang hingga menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB).

Semua kondisi ini tentu tidak diharapkan, karena itu Kepala Dinas Kesehatan mengatakan bahwa pihaknya saat ini terus mengupayakan agar kedepannya kondisi sanitasi di Bali bisa semakin baik dari waktu ke waktu. Diantaranya dengan melakukan pendekatan komunikasi aktif kepada masyarakat.

Bukan hanya memaparkan beberapa dampak buruk akibat kondisi sanitasi yang tidak baik saja, dalam kegiatan ini juga diterangkan bahwa dalam mendorong perbaikan sanitasi upaya komunikasi perubahan perilaku (BCC) secara terpadu kepada masyarakat adalah langkah efektif. Di mana sejumlah upaya yang bisa dilakukan antara lain dengan cara pemberdayaan masyarakat, pendekatan komunikasi, kemudian aktif melakukan komunikasi melalui media massa seperti radio, TV, dan koran , serta memanfaatkan media sosial seperti Facebook dan Twitter.

Selain itu, upaya pendekatan juga bisa dilakukan melalui event dengan memanfaatkan hari-hari besar Nasional maupun dengan memanfaat kegiatan/budaya yang memang telah terbukti efektif dalam mendukung perubahan perilaku hidup bersih dan sehat di tingkat masyarakat.

Collateral material, seperti leaflet, poster dll, juga dapat  menjadi sejumlah alat komunikasi yang akan digunakan untuk membantu program yang dibuat. Tujuannya untuk menarik perhatian masyarakat dan meningkatkan pengetahuan serta keinginan untuk melakukan perubahan perilaku. Peran tokoh masyarakat di daerah tertentu juga sangat kuat, sehingga pesan program dapat dimasukkan dalam dakwah, nasihat atau kegiatan agama/budaya lainnya.

Terakhir, adanya sarana sanitasi dan hygiene juga merupakan faktor pendukung. Keberadaan sarana ini juga akan mempercepat perubahan perilaku, dalam STBM pengembangan pasar sanitasi mulai digalakkan terutama paska pemicuan, ketika masyarakat telah berubah perilakunya dan timbul minat untuk membangun sarana sanitasi, keberadaan wirausaha sanitasi di lokasi terdekat sangat membantu masyarakat dalam memenuhi keinginannya.

Sedangkan dari sisi para pelaksana, adanya sistem monitoring dan evaluasi berbasis website terhadap para sanitarian juga merupakan hal yang krusial. Seperti yang telah disampaikan dalam e-News bulan Mei 2014 lalu, data merupakan salah satu hal terpenting dalam perjalanan suatu program. Sebab, melalui data perkembangan suatu program dapat terukur dengan jelas dan akurat.  <CMH>

Comments