Pemanfaatan "Kang Hebring" Untuk Promosi STBM

HebringKang Hebring adalah Tokoh Karikatur yang menjadi Ikon STBM dan berfungsi untuk mendekatkan kampanye pada kehidupan keseharian masyarakat.Panggilan “Kang” untuk “Hebring” juga menggambarkan keakraban dirinya dengan masyarakat.Karakter Kang hebring diangkat berdasarkan pemikiran fiktif yang menjadi alur perjalanan hidup yang sarat dengan pesan moral dan imajinasi. Nama “Hebring” sendiri berarti :hebat, nekat, petakilan, heboh sendiri, juga menggambarkan kedekatan sehingga bisa larut dalam kehidupan masyarakat yang menggemarinya. Karakteristik Kang Hebring unik,lucu, polos berbasis komunitas dengan kecerdasan yang sulit ditebak. Gaya bertuturnya ceplas ceplos, kadang-kadang pemikirannya nyleneh.Tingkah polahnya jenaka, banyak bercanda dan tidak dibuat-buat, tidak bisa diam, kata-katanya seperti “heureuy”/main-main tetapi senantiasa tepat, dia bisa bertutur dalam suasana formal dengan celotehannya yang ringan. Kang Hebring termasuk tokoh yang multi talenta, pinter bernyanyi, menari dan berdakwah. Lewat humornya pula dia memberi kritik, saran dan petuah.

Bahasa yang digunakan Hebring umumnya memakai bahasa gaul, tapi untuk kalangan tertentu bahasa yang sopan. Hebring termasuk tokoh yang serba tahu terutama berkaitan dengan masalah PHBS dan STBM. Hal ini dilatarbelakangi oleh pengalaman yang sangat tidak menyenangkan sewaktu anak-anak, karena saat dirinya serta tetangga-tetangganya masih melakukan praktek BABS serta jarang melaksanakan CTPS juga tidak menjalankan pilar-pilar yang ada di STBM, pernah menjadi korban diare. Karena efek jera inilah dia menjadi “terpanggil” untuk memberi arahan dan contoh bila ada masyarakat yang tidak menjalankan PHBS dalam kesehariannya. Dia, dengan kesadarannya sendiri menggali informasi dari beragam sumber untuk mendalami dan melaksanakan PHBS.Dalam gambaran apapun karakter Hebring sah-sah saja, yang tidak boleh hilang dari hebring adalah fungsi-fungsi STBM yang melekat dalam dirinya.Kang hebring juga akrab dan bisa menuntun anak-anak dibawah usianya dan sebaya untuk menjalankan PHBS dan senantiasa berdakwah 5 pilar STBM.

Posisi Hebring dalam cerita wayang mirip “Punakawan” yang bisa bertransformasi kedalam berbagai bentuk, bentuk pakemnya seperti Dawala (putra Lurah Semar).intonasi suaranya biasa saja.Pesan cerita Hebring harus universal agar bisa diterima berbagai kalangan, khususnya dilingkungan 3 zona budaya yang ada di Jawa Barat .Ada unsur modernitas di satu sisi dan tradisi di sisi lainnya. Hebringpun berprinsip : Men sana In Corpore Sano”, yaitu didalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat, juga harus bisa “ Ngigelan jeung Ngigelkeun Jaman serta Miindung ka Waktu Mibapa ka Zaman” (Mengikuti perkembangan zaman dan berperan dalam perkembangan zaman tersebut) . Umur Kang Hebring ditaksir dari peralihan remaja ke dewasa 27 tahunan.Dalam hal penampilannya, Kang Hebring, perawakannya sedang,profil muka penduduk desa , sangat biasa dan merupakan potret orang Indonesia asli menimbulkan efek riang disukai berbagai kalangan dan umur.

Dalam Konteks Diseminasi Informasi, konsep Pengembangan Kang Hebring, diantaranya :

Peran sebagai Dai/Ulama :

  • Karena berwatak humoris, dalam dakwahnya pesan dibungkus oleh humor yang segar sehingga tidak membosankan
  • Keberadaannya sangat dinantikan jamaah, khususnya ibu-ibu majlis taklim
  • Menekankan pada sifat sabar, terutama dalam mengajak masyarakat menjalankan pilar-pilar STBM tanpa meninggalkan sifat ulet dan mau kerja keras dalam mewujudkannya juga melalui contoh nyata darinya.
  • Selalu melihat sisi baik pada sikap orang lain dalam ceramahnya dan tidak bersikap menggurui serta menghindari sikap mencela dan senantiasa berbaik sangka
  • Dakwahnya bersifat interaktif dengan bahasa yang mudah dimengerti

Bagi anak-anak Siwa Sekolah :

  • Senantiasa mengedepankan contoh (jadi panutan), jenaka sehingga kehadirannya ditunggu oleh anak-anak
  • Pintar mendongeng (dalam penjelasannnya selalu diselipkan cerita hikayat, fabel, legenda, dll) diselipkan pesan STBM
  • Tidak egois dan mau mendengar curhat anak-anak dalam hal pelaksanaan pilar STBM
  • Menekankan untuk jujur, jangan berbohong
  • Dengan bahasa yang dimengerti anak dia berdakwah (utamanya hikmah dalam menerapkan pola hidup yang bersih dan sehat)
  • Akrab dengan anak-anak dan bersifat membimbing
  • Bisa mengemas pesan melalui tarian serta nyanyian

Bagi Masyarakat Umum :

  • Masyarakat umum bisa mengerti dan menyerap kosa katanya dalam menjelaskan pilar STBM
  • Memiliki anekdot-anekdot lucu dalam menjelaskan paparannya
  • Tidak kehilangan akal manakala mendapat pertanyaan
  • Untuk menjelaskan maksud dia menggunakan perbandingan dengan peran baik (protagonis) dan peran buruk (antagonis)
  • Berbahasa sederhana dan komunikatif

Pelibatannya Bersama Group Seni dari 3 Zona Budaya

  • Bisa berbagi peran dengan tokoh Seni Petunjukan Rakyat dari 3 zona budaya berbeda di Jawa Barat
  • Memahami karakter budayanya seperti adat istiadat, lumayan tahu bahasa setempat, istilah-istilah setempat sehingga penonton merasa dekat dengannya
  • Faham permasalahan Sanitasi di daerah zona dia berada
  • Bisa memberi tontonan dan tuntunan dalam tampilannya

<Info lebih lanjut dapat hubungi:  Wendy Sarasdyani, wsarasdyani@gmail.com>

Comments