Mengembangkan Kampanye Strategi Komunikasi dengan Memahami Perilaku Sanitasi Masyarakat

Beberapa waktu ini, WSP-World Bank bersama lembaga survey ternama dunia, Nielsen mengadakan survey tentang “ Memahami Perilaku Sanitasi” dengan analisa di tiga area yaitu pinggiran kota, pengunungan dan pantai.

1_mengembangkan_kampayeSurvey tersebut dilakukan pada 4 provinsi yang merupakan bagian dari 10 provinsi yang menjadi pilot project dari WSP dan Direktorat P2PL yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, Bali, dan Nusa Tenggara Barat.

Adapun tujuan dari dilakukannya survey tersebut ialah menetapkan kerangka praktik sanitasi dan kebersihan di kalangan populasi rural, mengindentifikasi faktor utama yang mempengaruhi praktik sanitasi dan kebersihan, mengidentifikasi manfaat utama dari sarana sanitasi.

Kemudian mengindentifikasi hambatan dalam menggunakan sanitasi yang sehat, serta mengidentifikasi kemampuan dan kemauan rumah tangga dalam membangun sarana sanitasi.

Dari penelitian tersebut tentunya ada banyak informasi yang didapatkan guna meningkatkan kondisi sanitasi di Indonesia yang memang belum berjalan dan mendapatkan hasil optimal. Di mana, penelitian Nielsen menunjukkan belum maksimalnya kondisi sanitasi dikarenakan masih banyak masyarakat yang beranggapan bahwa jamban bukanlah satu sarana penting yang harus dimiliki tiap keluarga. Bahkan, bila ada tambahan penghasilan, jamban juga belum dinilai sebagai kebutuhan utama.

Dalam surveynya, Nielsen menuliskan kebutuhan akan jamban biasanya muncul ketika kebutuhan lain seperti pakaian dan pangan sudah bisa terpenuhi. Hal ini karena, pembuatan jamban dinilai sebagai pengeluaran yang dapat ditunda, sebab mereka masih terbiasa dengan kegiatan BABS. Selain itu, masyarakat juga berfikir bahwa meminjam jamban tetangga merupakan satu perilaku yang bisa diterima.

Hal ini tentu sangat disayangkan. Pasalnya, buruknya kondisi sanitasi telah terbukti dapat berakibat pada banyak sektor seperti kesehatan, kesejahteraan, dan juga kerugian ekonomi.

Selanjutnya, dalam survey tersebut Nielsen juga menujukkan, pada umumnya masyararakat memiliki pengetahuan yang cukup baik akan pentingnya menjaga kesehatan dan kebersihan lingkungan.

Namun, penerapan terhadap pengetahuan tersebut masih sangat rendah. “Tingginya pengetahuan terhadap kesehatan tidak diterapkan secara maksmimal,” demikian tulis Nielsen. Maka dari itu, wajar rasanya bila kini kondisi sanitasi di beberapa wilayah masih belum berjalan baik.

Menurut Nielsen, umumnya para warga masyarakat mendapatkan sumber informasi dari tiga sumber yaitu individual yang didapat dari keluarga atau tokoh masyarakat, kemudian dari institusional yaitu dari kader puskesmas, dokter, dan petugas kesehatan, serta ketiga biasanya didapat dari media massa seperti televisi, koran, majalah, dan radio.

Dari ketiga sumber ini survey Nielsen menyatakan pendekatan individual lebih efektif dalam meningkatkan kepedulian dan pemahaman masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesehatan, termasuk menjaga kondisi sanitasi.

1_WSBCC  

Dari hasil ini bisa dikatakan bahwa pendekatan PHBS kepada masyarakat

melalui pesan-pesan moral yang biasanya diberikan para tokoh masyarakat dalam kegiatan keagaaman akan memiliki pengaruh lebih besar daripada hanya sekedar memberikan himbauan berupa poster dan lain sebagainya.

Pada penelitian ini, lebih lanjut Nielsen menujukkan, ada beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku Buang Air Besar Sembarangan ialah lokasi jauh dari jamban, rasa malu bila menumpang dengan tetangga, adanya halangan karena kondisi geografis, faktor kebiasaan, rasa nyaman, dan terakhir ialah tidak memiliki jamban. Dari hasil ini diketahui bahwa perilaku BABS tidak hanya berkaitan dengan hal fungsional saja, tetapi juga dengan kognitif dan emosional.

Dalam menanggulangi hal tersebut Nielsen menyimpulkan bahwa diperlukan adanya komunikasi yang sesuai dengan kondisi yang melatar belakangi setiap segmen masyarakat. Misalnya pada masyarakat yang melakukan BABS informasi mengenai siklus pembuangan yang benar, dampak negatif kotoran, serta konsep BAB sehat perlu dilakukan.

Sementara bagi masyarakat “Sharers” perlu dimotivasi untuk memiliki jamban sendiri, sehingga timbul rasa membutuhkan dan rasa malu untuk menggunakan jamban milik tetangga atau sanak saudaranya. Sedangkan, untuk masyarakat yang masih menggunakan jamban “Unimproved” komunikasi dan informasi yang perlu disampaikan ialah dampak negatif dari kotoran itu sendiri.

Dalam menanggulangi BABS dan meningkatkan kepedulian masyarakat untuk meningkatkan kondisi sanitasi, survey Nielsen menyebutkan bahwa peran semua pihak baik dari keluarga, tokoh agama, petugas kesehatan, dukungan pemerintah daerah, dan pemerintah pusat sangatlah dibutuhkan. Pasalnya, dalam mencapai kondisi sanitasi optimal peran semua pihak sangat penting dan berkaitan antara satu sama lain. CMH

Comments