Pembelajaran Penggunaan Toilet Bagi Balita Sejak Dini

Artikel ini merupakan refleksi pengalaman keseharian Bapak FX. Sudardjo, yang beliau temukan sebagai pemerhati STBM yang tinggal di Kota Semarang.

Celotehan para nenek dan kakek pada hari Sabtu pagi.

Setiap hari Sabtu pagi-pagi, di lingkungan dimana saya bertempat tinggal para lansia selalu berkumpul untuk berolah raga.  Untuk menyegarkan tubuhnya agar tidak layu dan tidak lesu. Sesudah olah raga dilanjjutkan pengkururan tekanan darah, minum air putih. Dan sering juga dilanjutkan dengan diskusi tentang bagaimana menjaga kesehatan di masa tua, yang dipandu atau difasilitasi oleh  beberapa orang anggota perkumpulan yang berprofesi dokter.

Pada hari Sabtu minggu pertama bulan Oktober 2014 yang lalu topik bahasan menarik perhatian saya. Yang dibicarakan  tentang pengalaman seorang nenek terhadap kebiasaan  cucunya. Cucunya yang sudah kelas satu SD masih sering ngompol  dan sering ngobrok (ter-berak di celana). Gayung bersambut terutama oleh para nenek, para oma. Maklumlah mereka banyak pengalaman merawat putri dan putranya sejak bayi, merawat cucu-cucunya sejak bayi, dan bahkan ada juga yang masih merawat cicit-cicitnya. Perkumpulan olah raga para lansia di lingkungan saya memang terdiri dari berbagai profesi, ada dokter, perawat, pensiunan dosen, pensiunan guru, pensiunan tentara, pengusaha dan lain-lain, sehingga dapat memperkaya diskusi. Di bawah inilah rangkuman celotehan para nenek dan para kakek.

Kebiasaan ngompol dan kebiasaan ngobrok dapat dicegah sejak dini.

3_baby and toilet copyPada umumnya orang masih menganggap bahwa bayi atau anak kecil itu masih ngompol waktu tidur, atau masih ngobrok di celana, itu adalah hal biasa. Akan tetapi kebiasaan ngompol waktu tidur, atau ngobrok di celana, itu dapat dicegah apabila sedini mungkin dilatih. Ada oma yang cerita bayi sejak umur 6 bulan sudah dapat dilatih agar tidak ngompol di popoknya. Asalkan ibunya rajin melatihnya. Sesudah minum susu (ASI), ibunya membawa anaknya ke kamar mandi,  melatih anaknya untuk buang air kecil (di-tatur dalam bahasa Jawa), sambil bilang es-es-es.... Memang membutuhkan kesabaran. Pada tahap permulaan sampai membutuhkan waktu setengah jam, bahkan lebih. Dan  kegiatan itu dilaksanakan berulang-ulang setelah menyusui anaknya, pada waktu pagi-siang dan malam. Membutuhkan kesabaran luar biasa bukan, tetapi bagi si ibu itu pekerjaan biasa karena dilandasi kasih sayang. Apabila sejak umur bayi sudah dilatih buang air kecil di kamar mandi, maka apabila dalam perjalanan kebelet untuk buang air kecil, pasti tidak akan mau untuk buang air kecil di sembarang tempat, misalnya di tepi jalan. Inilah sepenggal  dari catatan hasil celotehan para lansia sesudah olah raga di kampung saya.

Peran keluarga muda.

Bagi  keluarga muda penting sekali mengetahui dan memahami bagaimana agar putra dan putrinya tidak mempunyai kebiasaan ngompol dan kebiasaan ngobrok.  Saya teringat pada waktu cucu saya masih sekolah taman kanak-kanak. Pada waktu itu masih umur 4 tahun, di sekolahnya mengadakan kegiatan semacam rekoleksi kecil bagi siswa taman kanak-kanak. Semua siswa diwajibkan belajar mandiri, tinggal di wisma tidak boleh ditemani oleh orangtuanya. Dengan tujuan agar para siswa taman kanak-kanak dapat belajar mandi sendiri, makan sendiri, memakai baju sendiri, berdoa bersama, dan lain-lain kegiatan termasuk dapat buang air kecil sendiri dan buang air besar sendiri. Nah ini tentu kesulitan bagi anak-anak yang masih menggunakan “asisten”, disposable diaper (atau pospak, popok sekali pakai). Oleh karena itu penting sekali bagi keluarga untuk memberikan pelatihan tentang cara penggunaan toilet bagi anak balita sedini mungkin.

Sejak umur berapa anak balita diberikan pelatihan  penggunaan toilet?

Sejak anak sudah dapat duduk dengan baik, sebenarnya sudah dapat dilatih buang air besar di toilet tiruan, dengan pispot bentuk kursi yang dapat dibeli di toko yang menjual perlengkapan bayi atau menjual alat permainan anak. Dan harus dilakukan di kamar mandi agar anak mulai belajar bahwa buang air besar dilakukan di kamar mandi/kamar toilet. Menyalakan lampu, cara duduk di kursi pispot, memasukan tinja ke dalam toilet, menggelontor air, menceboki menggunakan air dan sabun, dan mematikan lampu kamar mandi setelah selesai  juga perlu diperkenalkan sejak dini, sesuai dengan perkembangan umur. Pada tahap awal, pembelajaran bagi bayi cukup dilakukan dengan pengenalan kegiatan dengan cara agar dapat melihat setiap kegiatan saja misalnya. Tidak ada patokan usia kapan pembelajaran penggunaan toilet harus dimulai. Saat yang tepat tergantung dari perkembangan fisik dan mental anak. Anak berusia di bawah 12 bulan tidak mempunyai kontrol terhadap kandung kemih dan buang air besar, 6 bulan sesudahnya ada sedikit kontrol. Antara 18 dan 24 bulan beberapa anak sudah menunjukkan kesiapan, tetapi beberapa anak belum siap sampai usia 30 bulan atau lebih.

Langkah Kegiatan Pembelajaran Penggunaan Toilet Bagi Balita.

1.   Biasakan di kamar mandi.

Orang tua perlu mengenalkan kamar mandi sebagai tempat untuk pipis (buang air kecil) dan buang air besar.. Meskipun masih menggunakan pispot biasakan hal ini dilakukan di kamar mandi. Ajak anak untuk melihat bagaimana membersihkan, menyiram kotoran di toilet. Orang tua harus sabar, sebab untuk pipis dan buang air besar sering sekali membutuhkan waktu yang lama.

2.   Mengatur jadual kapan harus ke kamar mandi.

Dengan memperhatikan kebiasaan anaknya, orang tua dapat mengetahui kapan memberikan pembelajaran kepada anaknya, kapan akan pipis dan kapan akan buang air besar. Biasakan melatih pipis sesudah anaknya minum (ASI) dan sebelum tidur  misalnya. Dengan mengetahui siklus pipis dan siklus buang air besar anaknya, akan mempermudah dalam memberikan pembelajaran penggunaan toilet bagi anaknya.

3.   Konsisten.

Semua anggota keluarga di rumah seperti orang tua, pengasuh, nenek,  kakek, paman,  bibi, dan lain-lain harus  konsisten  melaksanakan pembelajaran penggunaan toilet bagi balita yang ada di dalam rumah. Beri informasi lengkap dan detil mengenai kebiasaan dan jadwal pipis dan buang air balita. Sikap konsisten membuat balita lebih cepat paham dan terampil  dalam melakukan pipis dan buang air besar.

4.   Menciptakan suasana senang dan menarik.

Dalam memberikan pembelajaran penggunaan toilet bagi balita, dibuat dalam suasana senang dan menarik. Misalnya sambil menyanyikan lagu, memberikan mainan, menempelkan stiker-stiker di dinding kamar mandi dan lain-lain. Sehingga balita menjadi nyaman dan senang.

5.   Beri pujian.

Apabila balita telah  berhasil melakukan pipis dan buang air besar, berilah penghargaan sesuai perekembangan umur anak. Penghargaan dapat berupa pujian ataupun hadiah kecil, seperti mainan,gambar atau stiker.  Sehingga anak merasa senang.

Tantangan dan Peluang.

Sampai dengan saat ini akses penggunaan toilet masih rendah. Belum semua rumah pemukiman penduduk dilengkapi dengan sarana toilet (jamban keluarga). Kondisi ini berarti tidak memungkinkan bagi orang tua/ keluarga untuk memberikan pembelajaran tentang penggunaan toilet bagi anak-anaknya, memberikan pembelajaran bagi balita mereka. Malahan secara tidak sengaja memberikan pembelajaran bagi anak-anaknya untuk buang air kecil sembarangan, buang air besar sembarangan.

Pendekatan CLTS (Community Led Total Sanitation) lebih pada upaya perubahan perilaku untuk merubah kebiasaan lama perilaku yang tidak hygienis menjadi perilaku hygienis, dan timbul solidaritas untuk membangun sarana sanitasi secara swadaya tanpabantuan dari luar. Seharusnya ada upaya mencegah jangan sampai ada rumah dan bangunan baru yang tidak dilengkapi dengan sarana air minum dan sanitasi. Hal ini dapat dilakukan dengan penegakan peraturan perundangan.

Penulis:  FX. Sudardjo ( alamat kontak:  sudardjofx@yahoo.co.id )

Comments