Meskipun Jauh, Fasilitator STBM Terus Update Pengetahuan STBM Melalui PJJ STBM

pjjLama tidak ikut pelatihan ataupun bekerja jauh di lapangan, tidak membuat fasilitator STBM tertinggal dengan perkembangan STBM. Nurul Aini Maslichah, fasilitator STBM Kota Depok yang dulunya PNS di kementerian kesehatan mengatakan bahwa keinginannya untuk mengupdate ilmu STBM dipermudah oleh Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) STBM. “Meskipun sudah pensiun dari PNS, saya masih melakukan fasilitasi di masyarakat. Mendengar ada PJJ STBM saat reuni, saya sangat tertarik ikut mengupdate pengetahuan saya tentang STBM”. Selanjutnya dia mengatakan bahwa PJJ STBM sangat membantu tugasnya dan teman-temannya yang melakukan fasilitasi di lapangan untuk memahami STBM. “Terutama bagi yang belum berkesempatan mendapatkan pelatihan secara langsung,” tambahnya.

Tidak jauh berbeda dengan Ibu Nurul, Ibu kartiko Sari, fasilitator dan pelatih STBM dari Jawa Timur juga menyampaikan pengalamannya mengikuti PJJ STBM. “Seiring dengan waktu, ada berbagai perkembangan terkait STBM. Dulu, sekitar 10 tahunan yang lalu, saya belajar cuma dengan selembar kertas, ternyata sekarang sudah lebih berkembang. PJJ ini menarik dan membantu saya untuk mengupdate pengetahuan saya tentang STBM.”

Bapak Alim Bahri, fasilitator STBM di kabupaten Poso sepakat dengan Ibu Nurul dan Ibu Kartiko. Menurutnya, PJJ STBM sangat bermanfaat karena mudah dipahami dan juga dilengkapi dengan gambar, film, dan kuis-kuis yang menarik. “PJJ STBM ini juga membantu tugas saya memperkenalkan STBM kepada staf pemerintah maupun mitra-mitra saya di lapangan”, ujarnya. Namun demikian, Bapak Alim Bahri mengatakan bahwa dia masih mengalami beberapa kendala teknis dalam mengikuti PJJ seperti loading internet yang lambat dan adanya kesalahan nama di dalam sertifikat STBM online.

Hingga Januari 2015, lebih dari 400 orang dari seluruh Indonesia telah mengikuti PJJ STBM. “Pelatihan Jarak Jauh memang diharapkan dapat menjangkau dan meningkatkan kapasitas tenaga-tenaga kesehatan yang tersebar di seluruh Indonesia. Diharapkan hambatan jarak dan waktu dapat dikurangi dengan adanya PJJ ini,” jelas DR. dr. Eka Singka, MPH, kabid Pendayagunaan SDM Kesehatan Badan PPSDM Kesehatan, Kemenkes. PJJ juga diharapkan dapat memberikan pengetahuan dasar terkait STBM yang terstandar, sehingga bias-bias dan distorsi informasi karena penyampaian informasi yang tidak serentak dapat dikurangi. “Kami mengundang semua pelaksana STBM ataupun pelaku pemberdayaan masyarakat lainnya, baik dari sektor kesehatan maupun dari sektor lain, untuk mengikuti PJJ ini,” ujar Drh. Wilfried H Purba, Direktur Penyehatan Lingkungan, Kementerian Kesehatan. Selanjutnya Drh. Wilfried menambahkan bahwa PJJ STBM terdiri dari satu modul wajib dan tiga modul pilihan yang dapat diambil oleh peserta sesuai dengan ketertarikannya dan dapat diakses di http://elearning.stbm.kemkes.go.id.

Comments