Jejak Langkah Awal Pejuang Sanitasi Jayawijaya, Papua

WC kamiJejak langkahku ini sejak November 2013, saat datangnya teman-teman dari Wahana Visi Indonesia (WVI)  ke desa kami, Desa Manda, Distrik Bugi, Kabupaten Jayawijaya, Papua untuk melakukan monitoring terhadap masyarakat dan aku sebagai fasilitator pengembangan yang dipercayakan WVI mendampingi desa Manda. Teman-teman dari kantor WVI di Wamena harus menempuh perjalanan menggunakan mobil selama kurang lebih dua jam perjalanan, dengan jalan yang penuh lubang.

Saat tiba di desaku ini mereka merasa tergelitik karena di desaku tidak banyak yang memiliki WC dan ditemukan tahi di sekitar komplek honai*, memang warga di desaku masih banyak yang melakukan buang air besar sembarangan. Teman-teman WVI kemudian meminta bantuanku untuk mengumpulkan seberapa masyarakat yang ada, yang terdiri dari anak-anak dan orang tua. Setelah menyampaikan tujuan dan bina suasana untuk membangun keterbukaan, mulailah teman-teman dari WVI melakukan pemetaan desa, transect dan pemicuan yang membuat timbul rasa jijik dalam diriku dan beberapa masyarakat karena selama ini kami masih buang air besar sembarangan. Kesadaran pun mulai muncul. Apabila kami buang air besar sembarangan maka dapat terjadi penyakit karena lalat akan hinggap di tahi yang ada, kemudian dengan kakinya akan membawa kuman dan hinggap ke makanan, kemudian kami termasuk anak-anak memakan makanan itu maka kami akan sakit. Sementara di desaku sangat kurang fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatannya. Aku kemudian berpikir, ternyata penting sekali untuk menjaga kesehatan dengan langkah awal membuat WC.

Sama sepertiku, setelah pemicuan ada 15 orang di desaku terpicu untuk membuat WC sendiri. Namun seiring berjalannya waktu para warga yang mengaku terpicu tersebut sulit untuk digerakkan. Aku sempat merasa putus semangat ketika mereka yang tadinya mengaku terpicu, saat itu tidak mau bergerak bersama membangun WC.

Menyadari kalau aku tidak dapat bekerja sendiri  maka, aku bersama Yonias Kogoya seorang gembala gereja berinisiatif membuat pertemuan di gereja yang menghasilkan keputusan untuk membuat WC di gereja. Melalui jerih lelahku, Bapak Gembala serta anak-anak dan pemuda gereja terbangunlah 3 buah WC di gereja dengan kedalaman lubang WC sekitar 3 meter dan lebar 2 meter. WC ini kami buat tanpa sedikitpun bantuan dari pihak luar.

Menjelaskan ke pengunjung pameran mengenai WC yang kami buat - CopyBahan yang kami gunakan untuk membuat WC semuanya berasal dari dalam desa. Untuk lantai WC kami menggunakan kerikil dan abu tungku. Abu bekas bakaran kayu tungku memang ada disetiap rumah. Abu tungku dapat kami gunakan sebagai pengganti semen. Abu tungku ketika dicampur dengan air mendidih dapat kemudian dikeringkan dapat menjadi seperti semen. Harga semen di kota kami memang sangat mahal dan dapat mencapai kisaran Rp.800.000 per sak ketika sampai di desa. Kami tidak mampu untuk membelinya. Bahan lokal lain yang kami gunakan adalah seng, kayu, kerikil, “lokop”, bamboo dan alang-alang untuk bangunan WC. Tidak lupa kami membuat “tippy tap” dari jerigen dan kayu yang dipasang di depan WC untuk mengingatkan kami agar selalu mencuci tangan dengan sabun.

Dengan bahan sederhana dalam pembuatan WC tersebut, pada Juni 2014 rekan WVI mengajak aku dan Bapa Yonias ke Samarinda, Kalimantan Timur untuk menghadiri  Pameran Teknologi Tepat Guna. Ini merupakan suatu peristiwa yang tidak terlupakan untukku, kami berdua didaulat sebagai narasumber untuk menjelaskan inovasi yang kami bawa yaitu penggunaan abu tungku sebagai pengganti semen untuk lantai WC yang kami buat. Rasa bangga, senang dan bahagia begitu meliputi kami karena tidak henti-hentinya perhatian yang  luar biasa antusiasnya dari para pengunjung pameran yang bertanya dan ingin mengetahui bagaimana cara kami membuat pengganti semen ini. Berbagai masukan dan dukungan juga diberikan oleh para pengunjung pameran sehingga terbayar sudah rasa lelah kami setelah menempuh perjalanan udara lebih dari 6 jam dari Wamena ke Samarinda.

Sampai saat ini, desa kami sudah ada 7 WC yang terbangun tanpa bantuan pemerintah atau WVI. Memang awalnya WVI membantu kami menyadari kebutuhan WC. Kami yakin jumlah masyarakat yang menyadari kebutuhan WC sebagai penunjang kesehatan akan terus bertambah seiring perjuangan yang kami usahakan di Desa Manda, Jayawijaya.  Harapanku bukan saja desa kami yang bebas buang air besar sembarangan namun juga desa-desa lainnya di pegunungan tengah Jayawijaya dapat melakukan hal yang sama. Akhirnya, berbagai hal baik dari pengunungan tengah dapat dikenal diseantero negeri bahkan dunia. (Yali Inggibal; Dewi Sukowati_TL MNHCN Project).

Comments