Bisnis air dan sanitasi,,, Why Not..???

FullSizeRender_2Kamis, 19 Maret 2015 di Ballroom Hotel Akmani Jakarta, Plan Indonesia bekerjasama dengan Institute for Sustainable Futures, University of Technology Sydney dan Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan kegiatan Diseminasi hasil penelitian “Bagaimana wirausaha air dan sanitasi bermanfaat bagi masyarakat miskin (penelitian terkini di Pulau Jawa dan NTT)”.

Acara yang diawali dengan pembukaan oleh Direktur Perumahan dan Permukiman BAPPENAS, Ir. Nugroho Tri Utomo, MRP berlangsung meriah. Dihadiri pula oleh Kepala BBTKLPP Surabaya, Dr. Zainal Ilyas Nampira, SKM, M.Kes beserta ke - 57 peserta lainnya dari berbagai lintas sektor menambah solidnya suasana.

Dalam kegiatan tersebut juga dipaparkan sharing pembelajaran dari berbagai lintas sektor. Salah satunya, Wirausaha Sanitasi Bapak Chairel Malelak, pendiri bengkel Closet Timor mengemukakan bahwa untuk menarik minat pembeli diperlukan model closet yang bervariasi. Dimana beliau menciptakan closet varian terbaru, seperti love colour closet, soldier colour closet, animal colour closet dan politic colour closet.  Hal tersebut beliau ciptakan dikarenakan warga Timor sangat menyukai warna – warna cerah.

jamban1Bisnis air juga dapat dikembangkan sama halnya dengan bisnis sanitasi, seperti yang disampaikan oleh Bapak Purnomo bahwa pemanfaatan air Waduk Bendungan Tilong NTT dengan menggunakan “Sistem Master Meter” dapat diolah sebagai air minum. Konsep sistem tersebut salah satunya dikhususkan untuk melayani masyarakat berpenghasilan rendah. Sebagaimana kita ketahui bahwa pelaksanaan dunia bisnis tidak luput dari berbagai masalah, seperti yang diungkapkan oleh J.S Effendi bahwa “untuk mendapatkan bantuan kredit begitu sulit dikarenakan bank belum pernah memberikan bantuan terhadap masalah pengolahan air pedesaan”. Oleh karena itu diperlukan peningkatan informasi akan kebutuhan air dan sanitasi.

Juliet Willetts, University of Technology Sydney juga mengungkapkan hasil penelitian mengenai Motivators and Barriers For Entrepreneurs and Enterprises, bahwa “amongst sanitation and water entrepreneurs, the most influential traits on business success were pro activeness, innovativeness and risk-taking propensity and need for achievement.”

Dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan bisnis tidak hanya menilai supply dan demand melainkan harus memperhatikan faktor internal dan eksternal yang berkontribusi didalamnya. Sebagaimana diungkapkan oleh Ir. Nugroho Tri Utomo, MRP bahwa “diperlukan upaya dan kreatifitas luar biasa untuk mencapai Universal Access 2019 sehingga diharuskan kita bergerak empat kali lebih cepat untuk tahun berikutnya”. Semangat mengembangkan bisnis air dan sanitasi… Semangat mencapai Universal Access 2019!!! (HK)

Comments