Konsisten dengan Program STBM Adaro kembali membidik 15 desa menjadi desa ODF

Dinamika kegiatan dalam Kelas Pelatihan FasilitatorSetelah berhasil menjadikan lima desa di Kabupaten Tabalong  Provinsi Kalimantan Selatan dan dua desa di Kabupaten Barito Timur Provinsi Kalimantan Tengah menjadi desa Open Defecation Free (ODF) di tahun 2014,  Adaro melalui Yayasan Adaro Bangun Negeri (YABN) kembali melanjutkan program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) di sekitar area operasionalnya.  Meskipun masih di tengah lesunya pasar karena terus menurunnya harga batubara, Adaro tetap mengobarkan energi positifnya di tengah-tengah masyarakat.  Dengan semangat dan komitmen yang tinggi, Adaro yang tahun sebelumnya telah menjangkau 10 desa, kini meningkatkan sasaran programnya menjadi 15 desa, termasuk tiga desa sasaran 2014 yang belum menjadi desa ODF.  15 desa sasaran tersebut terdiri dari 10 desa di Kabupaten Tabalong dan dua desa di Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan, serta tiga desa dari Kabupaten Barito Timur.

Kegiatan persiapan telah dimulai sejak awal tahun dengan melakukan koordinasi lintas sektor, khususnya dengan Dinas Kesehatan di masing-masing kabupaten, untuk sinkronisasi program dan  penentuan desa sasaran.  Kegiatan berikutnya adalah pemutakhiran database fasilitas sanitasi di setiap desa dan pemetaan para pemangku kepentingan.  Kick off program baru dilaksanakan pada tanggal 1 April 2015 bersamaan dengan pertemuan koordinasi dan sosialisasi pra implementasi program STBM yang berlangsung di Balai Latihan Kerja Kabupaten Tabalong.  Kegiatan ini dihadiri oleh para pemangku kepentingan di tingkat Kabupaten dan Kecamatan dari tiga kabupaten.  Tujuan dari kegiatan ini terutama adalah untuk meningkatkan kepedulian dan komitmen para pemangku kepentingan dalam mendukung program STBM di wilayahnya masing-masing.

Untuk tataran operasional, YABN  melakukan pelatihan fasilitator tingkat desa selama empat hari, yaitu dari tanggal 20 – 23 April 2015. Acara yang dilakukan di Gedung Informasi Kabupaten Tabalong ini diikuti oleh 50 kader dan aparat desa dari 12 desa sasaran baru. Pelatihan ini dipandu oleh fasilitator nasional dari Lumajang, yaitu Bapak Budi Purwanto.  Selama empat hari pelatihan, selain melakukan proses pembelajaran dan dinamika dalam kelas peserta juga terjun langsung ke lapangan untuk melakukan praktik pemicuan di tengah-tengah masyarakat.  Para kader ini nantinya akan menjadi mitra kerja utama para sanitarian dan menjadi ujung tombak dalam mensukseskan program STBM di desanya masing-masing.

Pada hari yang lain, para sanitarian juga memiliki kesempatan yang sama untuk meng-upgrade pengetahuannya tentang STBM.  Karena sebelumnya para sanitarian ini telah mendapatkan pelatihan tentang teknik pemicuan dan telah mempraktikkannya dalam kegiatan rutin mereka, maka materi lanjutan yang diberikan harus berbeda.  Kali ini untuk para sanitarian diberikan pelatihan tentang  Monitoring dan Evaluasi Program STBM.  Pelatihan yang dilaksanakan selama tiga hari, mulai tanggal 24-26 April 2015 ini diikuti oleh 30 peserta, yaitu 23 orang dari Kabupaten Tabalong, 10 orang dari Kabupaten Balangan, dan 16 orang dari Kabupaten Barito Timur. Selain menghadirkan Bapak Budi Purwanto,  pelatihan ini juga melibatkan Ibu Nina Sandra dan Ibu Eliftina Zulfi dari Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan, sebagai fasilitator.

Pada kesempatan penutupan pelatihan, Ghufron Sholihin, selaku Program Manager CSR Adaro Energy  menyampaikan: “Sanitarian adalah penggerak kegiatan di desa-desa, sanitarian adalah agent of change, oleh karena itu sanitarian harus lebih banyak berada di tengah masyarakat, mendampingi para kader untuk mendorong terwujudnya perilaku hidup bersih dan sehat di tengah masyarakat”. Terkait kegiatan monitoring dan evaluasi, Ghufron menambahkan, bahwa yang terpenting dan harus menjadi perhatian utama adalah masalah kualitas data. “Paling tidak ada empat hal yang perlu perhatian serius terkait kualitas data.  Pertama, data harus valid, artinya apa yang dikumpulkan atau diukur harus tepat sesuai standar yang diinginkan. Kedua, data harus reliable, artinya data yang dikumpulkan harus konsisten dari waktu ke waktu.  Ketiga adalah timeliness, artinya data harus tersedia pada waktu yang diperlukan, selalu up to date, tidak basi.  Keempat, harus memiliki integritas, artinya data harus terbebas dari bias dan manipulasi untuk alasan kepentingan tertentu”, tambahnya.

Para pemangku kepentingan telah terpapar program, para kader dan sanitarian telah mendapat pelatihan, kini saatnya semua bersatu padu, turun ke lapangan, menginspirasi masyarakat untuk melakukan perubahan. Dari hasil pemantauan terhadap semua kegiatan, antusiasme para peserta sungguh sangat luar biasa.   Kondisi tersebut harus terus dijaga, komunikasi harus tetap terjalin,  dan semangat tidak boleh menurun.  Sebagai bagian dari implementasi program STBM ini, YABN secara berkala akan berkunjung dari desa ke desa untuk melakukan monitoring dan evaluasi perkembangan kegiatan yang dilakukan oleh para kader dan sanitarian, sekaligus mencari jalan keluar bersama masyarakat bila dalam implementasi kegiatan ditemukan kendala.  YABN juga akan melakukan pertemuan pelaku STBM secara berkala sebagai wahana sharing informasi dan lesson learned atas pelaksanaan program yang telah berjalan.

Semangat dan optimisme para sanitarian dan kader desa   adalah suntikan energi yang terus menginspirasi dan mengobarkan semangat kami untuk bisa terus berkarya mewujudkan masyarakat yang lebih sehat dan sejahtera.  Tak ada yang tak mungkin kalau kita bisa melakukannya secara bersama-sama.  Salam Sehat dari Banua.

Comments