Di India, BAB di jamban dibayar...

Kala kecil dulu (mungkin hingga sekarang), sering kita mendengar peribahasa “Tuntutlah ilmu hingga ke negeri China”. Dalam urusan buang hajat (BAB), sepertinya juga demikian. Dilematis “subsidi” dan “non-subsidi” pun masih menjadi perdebatan di Indonesia untuk urusan penuntasan masyarakat yang masih BABS. Kementerian Kesehatan dengan komitmen besarnya menjalankan program STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat) yang notabene mengusung pendekatan pemberdayaan masyarakat dan “non-subsidi”, masih akan banyak bersinggungan dengan program-program pemerintah baik pusat dan daerah yang membawa “subsidi”, hingga tahun 2020 kedepan menuju Universal Akses.

2_Kota_di_India_Bayar_Warga_agar_Gunakan_Toilet_Umum_-_Kompas_comSalahkah melakukan subsidi? Mari kita simak kisah dari negeri India dibawah ini:
"Sebuah dewan kota di India barat sedang berencana untuk membayar warga agar mau menggunakan toilet umum. Langkah itu merupakan upaya putus asa untuk menghentikan orang-orang yang suka buang air kecil dan buang air besar di tempat terbuka. Ahmedabad Municipal Corporation (AMC) telah memutuskan untuk memberikan warga satu rupee setiap kunjungan demi menarik mereka ke 300 toilet umum yang tersedia dan menjauh dari daerah terbuka dan dinding publik, yang sering berbau pesing. Petugas kesehatan AMC, Bhavikk Joshi, mengatakan, tawaran tersebut akan diujicobakan di 67 fasilitas umum di Ahmedabad, kota utama di Negara Bagian Gujarat di India barat, di mana petugas akan memberikan sebuah koin kepada setiap pengguna. "Setelah sukses, proyek itu akan dilaksanakan di semua 300 toilet umum di Ahmedabad," kata Joshi kepada AFP, Senin (8/6/2015). Langkah tersebut merupakan upaya terbaru untuk memotivasi orang agar menggunakan toilet setelah Pemerintah India mengumumkan kampanye kebersihan tahun lalu yang diperjuangkan Perdana Menteri Narendra Modi. Banyak orang di India menganggap toilet tidak higienis. Mereka lebih memilih jongkok di tempat terbuka karena percaya bahwa lebih bersih buang air besar jauh dari rumah. Ketua AMC, Pravin Patel, mengatakan, para pelanggar akan "diidentifikasi dan didorong" untuk menggunakan toilet dengan imbalan bayaran. "Ide di balik proyek ini adalah demi mencegah buang air besar secara terbuka di beberapa wilayah kota di mana orang, walaupun memiliki toilet umum, tetap buang air besar di tempat terbuka," kata Patel kepada AFP. Pemerintah India tahun lalu mengumumkan sebuah skema untuk memeriksa apakah orang-orang yang diberi toilet, sebagai bagian dari kampanye kebersihan, benar-benar menggunakannya, dengan menempatkan inspektur sanitasi yang pergi dari pintu ke pintu. Unicef memperkirakan bahwa hampir 594 juta orang, atau hampir setengah dari populasi India, buang air besar di tempat terbuka. Situasinya memburuk di daerah pedesaan yang miskin dan kotor. Kurangnya toilet dan masalah sanitasi lainnya telah menyebabkan masalah kesehatan yang besar di India karena menimbulkan penyakit seperti diare.”
 
Ternyata tidak hanya BBM saja yang disubsidi, urusan BAB saja di India perlu disubsidi, agar lingkungan menjadi bersih dan sehat. Mungkin pemerintah India mengalihkan subsidi BBM ke urusan BAB ini, paska tahun 2014 India menghapuskan subsidi BBM mereka. Dapat dibayangkan setiap hari, Pemerintah India mengeluarkan uang sebesar 594 juta Rupee (setara dengan Rp 124,4 milyar). Dalam setahun setidaknya pemerintah India harus mengeluarkan uang dari ‘koceknya’ sebesar Rp 44,8 trilyun. Besaran ini hampir setara dengan anggaran Kementerian Kesehatan tahun 2015.
 
Dari kisah negeri India pun, ternyata urusan BAB bukan sekedar urusan fisik bangunan jamban, namun lebih kepada perubahan perilaku. Masyarakat benar-benar menggunakan jamban atau tidak.

Bagaimana dengan masyarakat Indonesia?  <AR>
 

Sumber:  Kompas, Antaranews

Comments